AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pemanfaatan teknologi geospasial untuk menghadapi masalah penurunan muka tanah dan degradasi mangrove di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Permasalahan tersebut dinilai semakin serius karena berdampak pada lingkungan pesisir dan aktivitas masyarakat di wilayah pantai.
Dalam keterangan tertulis BRIN disebutkan bahwa kawasan Pantura Jawa menghadapi tekanan besar akibat penurunan muka tanah, abrasi, banjir rob, serta berkurangnya kawasan mangrove. Kondisi tersebut memerlukan sistem pemantauan yang akurat untuk mendukung mitigasi dan pengelolaan wilayah pesisir.
Peneliti BRIN menjelaskan teknologi geospasial dapat digunakan untuk memantau perubahan kondisi pesisir secara lebih cepat dan detail melalui pemanfaatan data satelit, sistem informasi geografis, dan penginderaan jauh.
“Teknologi geospasial memungkinkan pemantauan perubahan wilayah pesisir dilakukan secara lebih akurat dan berkelanjutan,” tulis BRIN.
Penurunan Muka Tanah Jadi Ancaman Pantura
BRIN menyebut penurunan muka tanah di kawasan Pantura Jawa menjadi salah satu faktor utama yang memperparah banjir rob dan kerusakan wilayah pesisir. Kondisi tersebut dipicu berbagai faktor seperti pengambilan air tanah berlebih dan perubahan lingkungan.
Selain penurunan muka tanah, degradasi mangrove juga disebut semakin mengurangi kemampuan alami pesisir dalam menahan abrasi dan gelombang laut.
Menurut BRIN, pemanfaatan teknologi geospasial penting untuk membantu pemetaan wilayah terdampak dan memantau perubahan garis pantai secara berkala.
“Data geospasial dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan wilayah pesisir,” jelas BRIN.
BRIN juga menyebut teknologi tersebut memungkinkan integrasi berbagai jenis data lingkungan untuk membantu analisis kondisi pesisir secara lebih menyeluruh.
Mangrove Dinilai Penting untuk Mitigasi Pesisir
Dalam penjelasannya, BRIN menilai ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas wilayah pesisir karena dapat membantu menahan abrasi dan mengurangi dampak gelombang laut.
Namun, kawasan mangrove di Pantura Jawa disebut mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan dan perubahan lingkungan. Karena itu, BRIN menilai pemantauan kondisi mangrove perlu dilakukan secara berkala menggunakan teknologi geospasial.
Selain untuk pemetaan lingkungan, teknologi tersebut juga dinilai dapat mendukung perencanaan rehabilitasi mangrove dan mitigasi bencana pesisir di masa depan.
“Pemanfaatan teknologi geospasial menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan,” tulis BRIN.
BRIN menyatakan pemanfaatan teknologi geospasial akan terus dikembangkan untuk mendukung pengelolaan lingkungan pesisir dan mitigasi perubahan wilayah Pantura Jawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Mitsubishi Pajero Baru Berpotensi Hadir dengan Varian Ralliart, Ini Bocorannya
- 2Galaxy Z Fold 8 Ultra Kembali Bocor, Pertahankan Desain Khas Seri Fold
- 3Pencarian Dangdut Naik, Gen Z Andalkan Google Search
- 4vivo X Fold6 Resmi Meluncur 26 Juni, Pre-Order Sudah Dibuka di China
- 5Apa Itu Matter? Teknologi Smart Home yang Bikin Perangkat Beda Merek Bisa Terhubung
- 6Oppo Reno 16 Series Siap Meluncur di Indonesia, Pre-Order Sudah Dibuka
- 7Bocoran Oppo Find N7 Terungkap, Ponsel Lipat Layar Lebar Siap Hadir pada 2027
- 8China Terapkan Standar Baru Mobil Listrik Mulai Juli 2026, Baterai Wajib Tidak Terbakar
- 9WhatsApp Uji Coba Panggilan Suara dan Video Grup di Versi Web
- 10Google dan Samsung Rilis Pembaruan Darurat Android untuk Atasi Celah Keamanan Berbahaya









