SpaceX Siapkan 1 Juta Satelit AI, Ilmuwan Khawatir Ganggu Iklim Bumi

AKURAT.CO SpaceX berencana membangun jaringan hingga 1 juta satelit untuk menjalankan pusat data kecerdasan buatan (AI) di orbit. Rencana ini dikhawatirkan menambah polusi di atmosfer Bumi akibat meningkatnya peluncuran dan kembalinya satelit.
SpaceX bukan satu-satunya perusahaan yang melihat luar angkasa sebagai lokasi pusat data. Amazon dan Blue Origin juga mengajukan rencana untuk menempatkan lebih dari 1 juta pusat data orbital dalam satu dekade ke depan.
Konsep ini menawarkan sejumlah keuntungan, terutama akses terhadap energi surya dan kemampuan membuang panas ke ruang angkasa. Pemindahan pusat data ke orbit juga dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap pasokan listrik dan air di Bumi.
Namun, ilmuwan atmosfer memperingatkan adanya dampak lingkungan yang belum sepenuhnya dipahami. Jika seluruh rencana tersebut terealisasi, jumlah satelit yang diluncurkan dan masuk kembali ke atmosfer dapat meningkat hingga 100 kali dibandingkan kondisi saat ini.
"Peluncuran dan masuk kembali benar-benar satu-satunya hal yang dilakukan manusia yang menyimpan material langsung ke atmosfer bagian atas," ujar Aaron Boley selaku seorang profesor astronomi dan peneliti keberlanjutan ruang angkasa di Universitas British Columbia.
Masalah lainnya berasal dari ukuran satelit pusat data yang diperkirakan jauh lebih besar daripada satelit komunikasi biasa. Bobot yang lebih tinggi membutuhkan lebih banyak bahan bakar saat peluncuran sekaligus menghasilkan lebih banyak material yang terbakar ketika satelit memasuki atmosfer.
Salah satu perhatian utama adalah emisi karbon hitam dari roket. Partikel tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun di atmosfer bagian atas dan berpotensi memengaruhi pemanasan global.
Material satelit juga menjadi persoalan. Sebagian besar badan satelit menggunakan aluminium yang dapat berubah menjadi aluminium oksida ketika terbakar di atmosfer. Senyawa tersebut berpotensi memengaruhi lapisan ozon.
Para peneliti masih belum mengetahui secara pasti bagaimana berbagai material tersebut akan bereaksi di atmosfer bagian atas. Mereka juga belum mengetahui pada tingkat konsentrasi seperti apa polutan tersebut dapat memicu perubahan lingkungan yang lebih serius.
Berbeda dengan polusi di dekat permukaan Bumi yang dapat terbawa hujan dan angin dalam hitungan minggu, material di atmosfer bagian atas dapat bertahan jauh lebih lama. Kondisi ini membuat dampak dari aktivitas peluncuran dan masuknya kembali satelit menjadi lebih sulit diprediksi.
SpaceX kemungkinan mengandalkan Starship untuk mengirim satelit dalam jumlah besar ke orbit. Meski memakai metana dan oksigen cair, ukuran Starship yang lebih besar membutuhkan lebih banyak bahan bakar.
Dikutip dari Space, Sabtu (15/8/2026), pembangunan jaringan 1 juta pusat data orbital SpaceX dapat membutuhkan puluhan ribu peluncuran Starship. Jumlah tersebut jauh melampaui aktivitas peluncuran roket orbital global yang tercatat dalam satu tahun.
Satelit yang sudah tidak digunakan juga akan menjadi persoalan tersendiri. Jika satelit pusat data memiliki bobot hingga beberapa ton dan diganti setiap sekitar lima tahun, jumlah logam serta material buatan manusia yang masuk kembali ke atmosfer dapat meningkat secara signifikan.
Para ilmuwan menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk baru pencemaran atmosfer yang belum pernah terjadi dalam skala sebesar itu. Karena material satelit tidak secara alami berada di atmosfer, dampak kimia dan lingkungannya masih sulit dipastikan.
Karena itu, sejumlah peneliti meminta kajian atmosfer dilakukan sebelum konstelasi satelit dalam jumlah besar diluncurkan. Mereka menilai pemahaman mengenai risikonya harus diperoleh lebih dulu, bukan setelah jutaan satelit sudah berada di orbit.
Selain berdampak pada lingkungan, konstelasi satelit dalam jumlah besar juga dikhawatirkan mengganggu astronomi. Cahaya dan pantulan satelit dapat mengganggu pengamatan teleskop dari Bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Infinix GT 50 Pro Dukung Kapolri Cup 2026, Polda Metro Jaya Juara
- 2Chery Freelander 8 Mulai Pre-Order di China, Punya Tenaga 818 HP
- 3Apple Dikabarkan Tunda iPhone 18 Reguler hingga 2027, Fokus ke Model Premium
- 4SpaceX Siapkan 1 Juta Satelit AI, Ilmuwan Khawatir Ganggu Iklim Bumi
- 5DeepSeek V4 Pro Resmi Dirilis, Harganya 14 Kali Lebih Mahal dari V4 Flash
- 6Samsung Pangkas Proses Desain Chip dari Sebulan Jadi Dua Hari Berkat Claude AI
- 7Daihatsu Raih 591 SPK di GIIAS 2026, K-Vision Sabet Penghargaan
- 8Google Pixel 11 Bisa Terjemahkan Bahasa Isyarat Jadi Teks Berkat AI
- 9Apple Siapkan 5 Perangkat Baru pada September 2026, Ada iPhone Lipat
- 10Apple Siapkan AI Sendiri untuk iPhone di China, Gandeng Alibaba







