Tekno

Mitos dan Fakta Seputar Keamanan Siber yang Masih Banyak Dipercaya

Winna Wandayani | 5 Agustus 2026, 18:17 WIB
Mitos dan Fakta Seputar Keamanan Siber yang Masih Banyak Dipercaya
Ilustrasi serangan siber. (Freepik)

AKURAT.CO Banyak orang merasa sudah cukup aman saat menggunakan internet hanya karena memakai smartphone terbaru atau memasang antivirus. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar karena ancaman siber terus berkembang.

Tidak sedikit pengguna yang masih mempercayai berbagai mitos tentang keamanan digital. Akibatnya, pengguna bisa menjadi lebih lengah dan tanpa sadar membuka celah bagi pelaku kejahatan siber.

Laporan dari sejumlah perusahaan keamanan siber menunjukkan bahwa metode serangan digital terus berubah, baik dari sisi teknik maupun targetnya. Karena itu, penting untuk memahami beberapa mitos yang masih sering dipercaya beserta fakta di baliknya.

1. Mitos: iPhone Tidak Bisa Diretas

Sebagian pengguna percaya perangkat Apple sepenuhnya kebal terhadap serangan siber. Faktanya, Apple rutin merilis pembaruan keamanan karena masih menemukan celah yang bisa dimanfaatkan peretas.

Dikutip dari WIRED, Selasa (4/8/2026), Apple beberapa kali merilis pembaruan darurat untuk menutup celah keamanan zero-day yang telah dieksploitasi peretas. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada sistem operasi yang benar-benar kebal sehingga pembaruan perangkat tetap penting.

2. Mitos: Antivirus Sudah Cukup Melindungi Perangkat

Antivirus memang membantu mendeteksi malware, tetapi bukan berarti mampu menghentikan semua jenis ancaman. Banyak serangan modern justru memanfaatkan rekayasa sosial (social engineering) agar korban menyerahkan data penting secara sukarela.

Dikutip dari Verizon, penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam serangan siber terus meningkat. Karena itu, kewaspadaan pengguna tetap menjadi perlindungan utama.

3. Mitos: Hacker Hanya Mengincar Orang Kaya

Tidak sedikit orang merasa akunnya tidak menarik bagi pelaku kejahatan siber. Kenyataannya, akun email, media sosial, hingga nomor telepon biasa tetap bernilai karena dapat digunakan untuk penipuan, phishing, atau dijual kepada pelaku lain.

Verizon menemukan bahwa faktor manusia masih berperan besar dalam banyak insiden keamanan. Artinya, siapa pun yang menggunakan internet berpotensi menjadi sasaran, terlepas dari jumlah uang yang dimiliki.

4. Mitos: Password yang Rumit Sudah Pasti Aman

Password yang panjang memang lebih sulit ditebak. Namun, perlindungan tersebut bisa sia-sia jika password yang sama digunakan di banyak akun atau bocor akibat kebocoran data.

Karena itu, banyak perusahaan teknologi kini mulai mendorong penggunaan passkey yang lebih tahan terhadap phishing dibanding password tradisional. Selain itu, autentikasi dua faktor (2FA) juga tetap disarankan sebagai lapisan keamanan tambahan.

5. Mitos: Serangan Siber Selalu Mudah Dikenali

Dulu email phishing sering dipenuhi kesalahan ejaan atau tampilan yang mencurigakan. Kini, pelaku memanfaatkan AI untuk membuat pesan yang lebih rapi, lebih personal dan lebih meyakinkan.

Verizon menyebut serangan lewat SMS palsu dan panggilan penipuan kini semakin marak. Karena itu, pengguna sebaiknya selalu memeriksa pengirim pesan dan tidak asal mengklik tautan.

Perangkat canggih dan aplikasi keamanan dapat membantu mengurangi risiko serangan siber, tetapi bukan jaminan mutlak. Karena itu, biasakan memperbarui perangkat, menggunakan password yang berbeda dan mengaktifkan 2FA agar akun tetap lebih aman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.