Kenapa Smart Home Rentan Diretas? Ini Risiko yang Sering Diabaikan

AKURAT.CO Smart home semakin banyak digunakan karena menawarkan kemudahan dalam mengendalikan perangkat rumah dari jarak jauh. Namun di balik kenyamanan tersebut, ada risiko keamanan siber yang perlu diperhatikan oleh pengguna.
Perangkat smart home seperti CCTV, lampu pintar dan smart plug bekerja dengan koneksi internet. Sistem ini membuat berbagai perangkat saling terhubung melalui jaringan dan layanan cloud.
Keterhubungan tersebut menjadi salah satu titik lemah utama dalam ekosistem Internet of Things (IoT). Jika tidak diamankan dengan baik, perangkat dapat menjadi pintu masuk bagi peretas.
Salah satu masalah paling sering terjadi adalah penggunaan kata sandi bawaan pabrik. Banyak perangkat tetap menggunakan password default sehingga mudah ditebak atau diakses pihak tidak bertanggung jawab.
Laporan dari perusahaan keamanan siber seperti Kaspersky menyoroti bahwa perangkat IoT sering menjadi target serangan karena konfigurasi keamanan yang lemah. Kondisi ini membuat smart home lebih rentan dibanding sistem tradisional.
Selain password lemah, perangkat murah juga sering memiliki standar keamanan yang rendah. Beberapa produk tidak memiliki enkripsi kuat atau jarang mendapatkan pembaruan perangkat lunak.
Celah ini bisa dimanfaatkan untuk mengambil alih perangkat secara jarak jauh. Akibatnya, kamera atau sensor rumah dapat disusupi tanpa sepengetahuan pemilik.
Isu lain yang sering muncul adalah kebocoran data dari layanan cloud. Data aktivitas rumah yang tersimpan di server pihak ketiga dapat berisiko jika terjadi pelanggaran sistem.
Dikutip dari Wired, Senin (1/6/2026), terdapat laporan kasus perangkat rumah pintar yang terekspos akibat kelemahan pada sistem cloud. Kasus tersebut menunjukkan bahwa risiko tidak hanya berasal dari perangkatnya, tetapi juga dari infrastruktur digital yang digunakan.
Kurangnya kesadaran pengguna terhadap pengumpulan data oleh perangkat smart home juga menjadi sorotan berbagai lembaga pengawas konsumen. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa aktivitas harian mereka bisa direkam dan dianalisis oleh perangkat tersebut.
Faktor manusia juga menjadi bagian penting dari masalah keamanan ini. Banyak pengguna tidak mengaktifkan fitur keamanan tambahan seperti autentikasi dua faktor atau pembaruan otomatis.
Kesalahan konfigurasi ini membuat sistem yang sebenarnya aman menjadi rentan. Dengan pengaturan yang tepat, risiko dapat ditekan secara signifikan.
Pada akhirnya, smart home bukanlah teknologi yang berbahaya, tetapi implementasinya yang menentukan tingkat keamanannya. Kesadaran pengguna dan standar keamanan yang kuat menjadi kunci utama untuk menjaga privasi di era rumah pintar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Infinix GT 50 Pro Dukung Kapolri Cup 2026, Polda Metro Jaya Juara
- 2Chery Freelander 8 Mulai Pre-Order di China, Punya Tenaga 818 HP
- 3Apple Dikabarkan Tunda iPhone 18 Reguler hingga 2027, Fokus ke Model Premium
- 4SpaceX Siapkan 1 Juta Satelit AI, Ilmuwan Khawatir Ganggu Iklim Bumi
- 5DeepSeek V4 Pro Resmi Dirilis, Harganya 14 Kali Lebih Mahal dari V4 Flash
- 6Samsung Pangkas Proses Desain Chip dari Sebulan Jadi Dua Hari Berkat Claude AI
- 7Daihatsu Raih 591 SPK di GIIAS 2026, K-Vision Sabet Penghargaan
- 8Google Pixel 11 Bisa Terjemahkan Bahasa Isyarat Jadi Teks Berkat AI
- 9Apple Siapkan 5 Perangkat Baru pada September 2026, Ada iPhone Lipat
- 10Apple Siapkan AI Sendiri untuk iPhone di China, Gandeng Alibaba









