Tekno

Hype Robot Humanoid, Apakah Siap Digunakan Massal?

Yusuf Tirtayasa | 11 Mei 2026, 19:09 WIB
Hype Robot Humanoid, Apakah Siap Digunakan Massal?
Ilustrasi robot. (Pixabay)

AKURAT.CO Perkembangan robot humanoid kembali menjadi sorotan global setelah teknologi ini semakin sering muncul di berbagai aktivitas publik. Robot humanoid kini terlihat berlari di half marathon Beijing, bekerja sebagai petugas bandara, penyortir sampah, hingga tampil di acara publik dan keagamaan.

Kondisi tersebut memicu pertanyaan apakah robot humanoid benar-benar siap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari atau masih sebatas hype industri teknologi.

Laporan Vox menyebut perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan China kini berlomba mengembangkan robot humanoid sebagai bagian dari masa depan AI dan otomasi.

Sejumlah perusahaan besar mulai terjun ke sektor ini, termasuk Tesla, Meta, dan Google. CEO Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut robot humanoid Optimus berpotensi menjadi produk terbesar Tesla di masa depan.

Kemajuan teknologi AI disebut menjadi pendorong utama ledakan industri robot humanoid. Perkembangan large language model dan machine learning memungkinkan robot mempelajari tugas dengan cara yang lebih mirip manusia dibanding generasi robot sebelumnya.

Namun, laporan Vox menyebut dunia fisik jauh lebih kompleks dibanding sistem AI berbasis teks seperti chatbot.

China dan AS Bersaing di Industri Robot

Vox menyebut Amerika Serikat dan China kini menjadi dua negara utama dalam perlombaan robot humanoid global. Di AS, banyak perusahaan fokus mengembangkan robot untuk kebutuhan rumah tangga dan layanan personal.

Sementara itu, China dinilai bergerak lebih cepat dalam pengembangan robot humanoid karena didukung kapasitas manufaktur besar dan kebutuhan tenaga kerja akibat populasi menua. Pemerintah China juga melihat robot humanoid sebagai solusi untuk kekurangan tenaga kerja industri dan sektor perawatan lansia.

Reuters sebelumnya melaporkan China mendominasi lebih dari 80% instalasi robot humanoid global pada 2025. Negara tersebut juga mulai menggelar kompetisi robot skala besar untuk menunjukkan kemajuan teknologi navigasi, mobilitas, dan kecerdasan buatan mereka.

Beberapa perusahaan China seperti Unitree, UBTech, dan AgiBot disebut agresif meningkatkan produksi robot humanoid dalam beberapa tahun terakhir. Vox menilai kecepatan pengembangan China menjadi salah satu alasan meningkatnya persaingan global di sektor robotika.

Teknologi Dinilai Belum Siap Massal

Meski perkembangan robot humanoid terlihat cepat, Vox menilai teknologi tersebut masih jauh dari penggunaan massal sehari-hari. Salah satu tantangan utama adalah akurasi dan keandalan robot ketika bekerja di lingkungan nyata.

Laporan tersebut memberi contoh bahwa kesalahan kecil pada chatbot mungkin tidak terlalu bermasalah, tetapi kesalahan robot di dunia nyata bisa berdampak besar, seperti menjatuhkan barang atau gagal menjalankan tugas fisik secara aman.

Vox juga menyebut banyak klaim industri robot humanoid saat ini masih terlalu optimistis. Teknologi tersebut dinilai masih lebih dekat dengan konsep “mobil terbang” dibanding produk rumah tangga yang benar-benar umum digunakan dalam waktu dekat.

Meski begitu, perusahaan teknologi tetap terus mengembangkan robot humanoid untuk berbagai sektor seperti manufaktur, logistik, layanan publik, hingga pekerjaan rumah tangga.

Persaingan antara perusahaan Amerika Serikat dan China diperkirakan akan semakin ketat seiring meningkatnya investasi di bidang AI dan robotika.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.