Tekno

NASA Ungkap Komet Antarbintang 3I/ATLAS Simpan Jejak dari Luar Tata Surya

Yusuf Tirtayasa | 6 Juli 2026, 16:40 WIB
NASA Ungkap Komet Antarbintang 3I/ATLAS Simpan Jejak dari Luar Tata Surya
NASA Ungkap Komet Antarbintang 3I/ATLAS Simpan Jejak dari Luar Tata Surya. (dok. NASA)

AKURAT.CO Untuk ketiga kalinya dalam sejarah astronomi modern, para ilmuwan berhasil mempelajari sebuah objek yang berasal dari luar tata surya. Objek tersebut adalah komet antarbintang 3I/ATLAS, yang kini menjadi fokus penelitian internasional setelah James Webb Space Telescope (JWST) menemukan komposisi kimia yang berbeda dari seluruh komet yang pernah diamati sebelumnya.

Penemuan ini dianggap sangat penting karena komet antarbintang merupakan "utusan kosmik" yang membawa material asli dari sistem bintang lain. Berbeda dengan komet yang berasal dari Tata Surya, objek seperti 3I/ATLAS terbentuk mengelilingi bintang yang sama sekali berbeda, sehingga menyimpan informasi mengenai bagaimana planet dan bintang terbentuk di tempat lain di Galaksi Bima Sakti.

Dilansir jurnal Nature pada Senin (22/06/2026) temuan terbaru tersebut menjadi perhatian setelah dipublikasikan melalui hasil penelitian yang dirangkum NASA.

Berdasarkan pengamatan menggunakan James Webb Space Telescope, tim astronom menemukan bahwa rasio karbon dan hidrogen berat (deuterium) pada 3I/ATLAS berbeda secara signifikan dibanding komet-komet di Tata Surya. Temuan ini memperkuat bukti bahwa objek tersebut benar-benar berasal dari luar sistem Matahari.

Para astronom memanfaatkan instrumen spektroskopi inframerah James Webb untuk mengurai komposisi gas yang dilepaskan komet ketika dipanaskan Matahari. Metode ini memungkinkan ilmuwan membaca "sidik jari kimia" suatu objek tanpa harus mengambil sampel secara langsung.

"Rasio karbon dan deuterium yang kami ukur tidak ditemukan pada komet di Tata Surya, sehingga semakin menguatkan bahwa objek ini berasal dari sistem bintang lain," demikian kesimpulan tim peneliti dalam publikasi ilmiahnya yang dirangkum NASA.

Bagi komunitas astronomi, hasil tersebut menjadi salah satu bukti terkuat bahwa manusia kini mampu mempelajari material asli dari luar Tata Surya menggunakan teleskop generasi terbaru.

James Webb Membaca "Sidik Jari Kimia" dari Galaksi Lain

Komet 3I/ATLAS pertama kali ditemukan oleh sistem Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) pada pertengahan 2025. Setelah lintasannya dihitung, para astronom segera menyadari bahwa orbitnya bersifat hiperbolik, artinya objek tersebut tidak terikat gravitasi Matahari dan hanya melintas sebelum kembali ke ruang antarbintang.

Kesempatan mengamati objek seperti ini sangat langka. Sebelum 3I/ATLAS, astronom hanya pernah mengidentifikasi dua pengunjung antarbintang lainnya, yaitu ʻOumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019.

James Webb kemudian melakukan observasi ketika komet mulai menjauh dari Matahari. Saat itu, panas Matahari masih cukup kuat untuk menguapkan es di permukaan komet sehingga membentuk koma, yaitu selubung gas yang dapat dianalisis menggunakan spektroskopi.

Instrumen inframerah Webb mendeteksi komposisi kimia yang tidak sesuai dengan pola komet di Tata Surya. Perbedaan tersebut terutama terlihat pada kandungan karbon dan deuterium, dua unsur yang sering digunakan astronom untuk menelusuri lingkungan tempat sebuah objek terbentuk.

Menurut para peneliti, setiap sistem bintang memiliki "resep kimia" yang sedikit berbeda. Karena itu, komposisi suatu komet dapat digunakan layaknya identitas atau paspor yang menunjukkan asal-usulnya.

Selain memberikan data mengenai pembentukan sistem planet lain, penelitian ini juga membantu ilmuwan memahami bagaimana materi antarbintang berpindah dari satu sistem bintang ke sistem lainnya selama miliaran tahun.

Membuka Jendela Baru untuk Memahami Evolusi Galaksi

Keberhasilan James Webb menganalisis 3I/ATLAS memperlihatkan bagaimana teleskop generasi baru telah mengubah pendekatan penelitian astronomi. Jika sebelumnya ilmuwan hanya dapat mempelajari objek di dalam Tata Surya, kini mereka mulai memperoleh data langsung mengenai benda langit yang berasal dari lingkungan kosmik berbeda.

NASA menjelaskan bahwa kemampuan spektroskopi Webb menjadi faktor utama dalam penelitian ini. Resolusi tinggi memungkinkan para astronom mengidentifikasi molekul dan isotop dalam jumlah sangat kecil, sesuatu yang sulit dicapai oleh observatorium sebelumnya.

Penelitian terhadap komet antarbintang juga memiliki dampak lebih luas terhadap studi pembentukan planet. Dengan membandingkan komposisi objek dari berbagai sistem bintang, ilmuwan dapat mengetahui apakah proses pembentukan planet di alam semesta memiliki pola yang serupa atau justru sangat beragam.

Dalam beberapa tahun terakhir, James Webb telah menghasilkan berbagai pencapaian penting, mulai dari mengamati galaksi purba, mempelajari atmosfer eksoplanet, hingga memetakan wilayah pembentukan bintang. Penelitian terhadap 3I/ATLAS melengkapi daftar tersebut dengan menghadirkan informasi langsung mengenai material yang berasal dari luar Tata Surya.

Bagi dunia sains, setiap objek antarbintang merupakan kesempatan yang sangat langka. Jumlahnya sedikit, waktu pengamatannya terbatas, dan setiap data yang berhasil dikumpulkan dapat memperluas pemahaman manusia mengenai evolusi galaksi serta proses pembentukan sistem planet di seluruh alam semesta.

Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa James Webb bukan hanya membantu melihat lebih jauh ke ruang angkasa, tetapi juga membantu membaca sejarah kosmik yang tersimpan di dalam objek-objek pengembara antarbintang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.