Tekno

Teleskop James Webb Ungkap Planet Raksasa dengan Cuaca Paling Aneh

Yusuf Tirtayasa | 3 Juli 2026, 13:31 WIB
Teleskop James Webb Ungkap Planet Raksasa dengan Cuaca Paling Aneh
Konsep artistik ini menunjukkan eksoplanet HD 80606 b yang "dipanggang" saat orbitnya mendekati periastron, titik di mana ia berada paling dekat dengan bintang induknya. (NASA)

AKURAT.CO Kemampuan James Webb Space Telescope (JWST) kembali mengubah cara ilmuwan memahami dunia di luar tata surya. Kali ini, teleskop luar angkasa milik NASA berhasil mengamati secara langsung siklus cuaca yang belum pernah terlihat sebelumnya pada sebuah planet raksasa berjarak hampir 700 tahun cahaya dari Bumi.

Fenomena tersebut memperlihatkan awan yang tersusun dari mineral mirip batuan muncul setiap pagi, lalu menghilang ketika planet memasuki malam. Penemuan ini menjadi salah satu observasi atmosfer eksoplanet paling detail yang pernah dilakukan.

Selama bertahun-tahun, para astronom mengetahui bahwa banyak planet raksasa memiliki atmosfer yang dipenuhi awan, tetapi belum pernah mampu melihat bagaimana awan tersebut terbentuk dan menghilang secara real time.

Penelitian yang dipublikasikan dalam laman resmi NASA beberapa waktu lalu itu dipimpin oleh Dr. Tiffany Kataria sekaku Principal Investigator dari NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL). Ia bersama tim astronom internasional mempresentasikan hasil awal mereka pada pertemuan ke-248 American Astronomical Society (AAS) di Pasadena, California.

Dalam pengamatannya, James Webb mendapati bahwa temperatur planet berubah sangat ekstrem ketika mendekati bintang induknya. Perubahan suhu tersebut memicu proses pembentukan sekaligus penguapan awan mineral dalam waktu yang sangat singkat.

"Planet Jupiter panas sudah dikenal sebagai salah satu eksoplanet paling ekstrem yang pernah kami temukan. Namun bahkan di antara kelompok itu, HD 80606 b benar-benar merupakan kasus yang sangat ekstrem," ujar Dr. Tiffany Kataria dalam keterangan resmi NASA.

Orbit Ekstrem Membuat Atmosfer Planet Terus Berubah

HD 80606 b bukanlah planet biasa. Massanya sekitar empat kali lebih besar daripada Jupiter dan memiliki orbit yang sangat lonjong. Dalam satu kali revolusi selama 111 hari, planet ini bergerak sangat jauh dari bintangnya, lalu kembali melintas sangat dekat.

Ketika mencapai titik terdekat atau periastron, suhu atmosfernya melonjak hingga sekitar 1.100 derajat Fahrenheit hanya dalam waktu singkat. Lonjakan temperatur ini menyebabkan perubahan kimia atmosfer yang belum pernah diamati sedetail ini sebelumnya.

Untuk mengamati fenomena tersebut, tim peneliti menggunakan instrumen Mid-Infrared Instrument (MIRI) yang menjadi salah satu perangkat utama James Webb. Instrumen ini mampu menganalisis cahaya inframerah sehingga ilmuwan dapat mengidentifikasi perubahan temperatur, komposisi kimia, hingga dinamika atmosfer planet secara real time.

Selain MIRI, data spektroskopi James Webb memungkinkan ilmuwan mendeteksi molekul seperti metana dan karbon dioksida yang sebelumnya sulit dipelajari menggunakan teleskop generasi lama seperti Spitzer Space Telescope.

Menurut Dr. Laura C. Mayorga, astronom eksoplanet dari Johns Hopkins Applied Physics Laboratory sekaligus salah satu peneliti dalam proyek tersebut, orbit yang tidak biasa justru menjadi keuntungan bagi para astronom.

"Mengamati planet seperti HD 80606 b sangat efisien karena orbitnya yang unik memungkinkan kami memperoleh data dalam berbagai kondisi hanya dalam hitungan jam, lalu menerapkan temuan tersebut untuk memahami eksoplanet lain," jelas Laura C. Mayorga.

James Webb Membuka Era Baru Studi Atmosfer Eksoplanet

James Webb Space Telescope merupakan proyek kolaborasi NASA, European Space Agency (ESA), dan Canadian Space Agency (CSA) yang dirancang untuk menjawab berbagai pertanyaan besar mengenai asal-usul alam semesta, evolusi galaksi, hingga kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, teleskop ini telah menghasilkan berbagai penemuan penting, mulai dari galaksi paling awal di alam semesta hingga analisis atmosfer eksoplanet yang belum pernah dapat dilakukan sebelumnya.

Kasus HD 80606 b memberikan contoh nyata bagaimana perubahan cuaca ekstrem dapat diamati secara langsung di dunia lain. Data yang dikumpulkan James Webb tidak hanya membantu memahami perilaku atmosfer planet raksasa, tetapi juga menjadi dasar untuk menyempurnakan model iklim eksoplanet yang lebih kecil dan berpotensi layak huni.

Bagi komunitas astronomi, pencapaian ini merupakan langkah penting menuju tujuan yang lebih besar, yaitu memahami bagaimana atmosfer planet terbentuk, berevolusi, dan apakah suatu saat nanti ilmuwan dapat menemukan tanda-tanda biologis di planet lain.

Kemajuan instrumen seperti MIRI dan teknik spektroskopi resolusi tinggi menunjukkan bahwa eksplorasi antariksa telah memasuki era baru. Kini, ilmuwan tidak lagi sekadar menemukan planet di luar tata surya, tetapi mulai mampu mempelajari cuaca, komposisi atmosfer, hingga dinamika iklimnya secara rinci.

Semakin banyak data yang dikumpulkan James Webb, semakin besar pula peluang untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar dalam sejarah sains: apakah kehidupan hanya ada di Bumi, atau tersebar di berbagai penjuru alam semesta.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.