Matahari Buatan China Bidik Terobosan Fusi Nuklir pada 2027

AKURAT.CO China terus mempercepat pengembangan teknologi fusi nuklir melalui reaktor tokamak yang dikenal sebagai 'matahari buatan'. Teknologi ini digadang-gadang mampu menghasilkan energi bersih dalam jumlah besar dengan emisi yang sangat rendah.
Proyek paling maju saat ini adalah Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) yang dikembangkan oleh Institute of Plasma Physics. Reaktor tersebut dirancang untuk meniru proses fusi yang terjadi di inti Matahari.
Pemerintah China menargetkan EAST menjalankan eksperimen fusion ignition pertama pada 2027. Tahap ini menjadi penanda penting karena plasma diharapkan dapat mempertahankan reaksinya sendiri tanpa pemanasan tambahan.
Fusi nuklir bekerja dengan menggabungkan dua inti atom ringan untuk menghasilkan energi dan panas yang sangat besar. Namun proses tersebut membutuhkan suhu ekstrem dan medan magnet kuat agar reaksi tetap stabil.
Untuk mencapai kondisi itu, plasma harus dipanaskan hingga sekitar 150 juta derajat Celsius. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding suhu inti Matahari yang mencapai sekitar 15 juta derajat Celsius, sebagaimana dikutip dari China Daily, Senin (8/6/2026).
EAST telah mencatat sejumlah kemajuan penting dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2025, reaktor ini memecahkan rekor dunia dengan mempertahankan pembakaran plasma berkualitas tinggi selama 1.066 detik.
Pencapaian lain diraih saat para peneliti berhasil melampaui Greenwald limit, yaitu batas teoritis kepadatan plasma dalam reaktor fusi. Hasil tersebut menunjukkan plasma tetap dapat stabil meski berada pada tingkat kepadatan yang sangat tinggi.
Meski EAST menjadi proyek unggulan, perhatian China kini juga tertuju pada Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST). Reaktor yang ditargetkan selesai pada 2027 itu diharapkan menjadi yang pertama menghasilkan listrik dari fusi nuklir.
BEST akan menggunakan deuterium dan tritium sebagai bahan bakar utama pada tahap awal operasinya. Dalam jangka panjang, para ilmuwan berharap reaktor tersebut mampu memproduksi tritiumnya sendiri untuk mendukung operasional berkelanjutan.
China juga menyiapkan proyek fusi lain seperti China Fusion Engineering Demo Reactor dan pembangkit Xinghuo yang menggabungkan fisi serta fusi nuklir. Meski masih menghadapi berbagai tantangan teknis, kemajuan ini menunjukkan energi fusi semakin dekat menjadi sumber energi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Mitsubishi Pajero Baru Berpotensi Hadir dengan Varian Ralliart, Ini Bocorannya
- 2Daftar iPhone, iPad, hingga Mac yang Mendukung Siri AI Baru dari Apple
- 3Galaxy Z Fold 8 Ultra Kembali Bocor, Pertahankan Desain Khas Seri Fold
- 4Pemerintah AS Perintahkan Anthropic Hentikan Fable 5 dan Mythos 5
- 5vivo X Fold6 Resmi Meluncur 26 Juni, Pre-Order Sudah Dibuka di China
- 6Insta360 Luna Ultra Meluncur, Kamera Gimbal Saku Penantang DJI Osmo Pocket
- 7Apa Itu Matter? Teknologi Smart Home yang Bikin Perangkat Beda Merek Bisa Terhubung
- 8Bocoran Oppo Find N7 Terungkap, Ponsel Lipat Layar Lebar Siap Hadir pada 2027
- 9WhatsApp Uji Coba Panggilan Suara dan Video Grup di Versi Web
- 10Opera Android Punya Tampilan Baru dan Fitur Khusus Sepak Bola Ramaikan Piala Dunia 2026





