Tekno

Matahari Buatan China Bidik Terobosan Fusi Nuklir pada 2027

Winna Wandayani | 8 Juni 2026, 21:08 WIB
Matahari Buatan China Bidik Terobosan Fusi Nuklir pada 2027
Ilustrasi Matahari buatan (Freepik)

AKURAT.CO China terus mempercepat pengembangan teknologi fusi nuklir melalui reaktor tokamak yang dikenal sebagai 'matahari buatan'. Teknologi ini digadang-gadang mampu menghasilkan energi bersih dalam jumlah besar dengan emisi yang sangat rendah.

Proyek paling maju saat ini adalah Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) yang dikembangkan oleh Institute of Plasma Physics. Reaktor tersebut dirancang untuk meniru proses fusi yang terjadi di inti Matahari.

Pemerintah China menargetkan EAST menjalankan eksperimen fusion ignition pertama pada 2027. Tahap ini menjadi penanda penting karena plasma diharapkan dapat mempertahankan reaksinya sendiri tanpa pemanasan tambahan.

Fusi nuklir bekerja dengan menggabungkan dua inti atom ringan untuk menghasilkan energi dan panas yang sangat besar. Namun proses tersebut membutuhkan suhu ekstrem dan medan magnet kuat agar reaksi tetap stabil.

Untuk mencapai kondisi itu, plasma harus dipanaskan hingga sekitar 150 juta derajat Celsius. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding suhu inti Matahari yang mencapai sekitar 15 juta derajat Celsius, sebagaimana dikutip dari China Daily, Senin (8/6/2026).

EAST telah mencatat sejumlah kemajuan penting dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2025, reaktor ini memecahkan rekor dunia dengan mempertahankan pembakaran plasma berkualitas tinggi selama 1.066 detik.

Pencapaian lain diraih saat para peneliti berhasil melampaui Greenwald limit, yaitu batas teoritis kepadatan plasma dalam reaktor fusi. Hasil tersebut menunjukkan plasma tetap dapat stabil meski berada pada tingkat kepadatan yang sangat tinggi.

Meski EAST menjadi proyek unggulan, perhatian China kini juga tertuju pada Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST). Reaktor yang ditargetkan selesai pada 2027 itu diharapkan menjadi yang pertama menghasilkan listrik dari fusi nuklir.

BEST akan menggunakan deuterium dan tritium sebagai bahan bakar utama pada tahap awal operasinya. Dalam jangka panjang, para ilmuwan berharap reaktor tersebut mampu memproduksi tritiumnya sendiri untuk mendukung operasional berkelanjutan.

China juga menyiapkan proyek fusi lain seperti China Fusion Engineering Demo Reactor dan pembangkit Xinghuo yang menggabungkan fisi serta fusi nuklir. Meski masih menghadapi berbagai tantangan teknis, kemajuan ini menunjukkan energi fusi semakin dekat menjadi sumber energi masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.