Fusi Nuklir Sudah Bisa Menghasilkan Energi, Bagaimana Nilai Ekonominya?

AKURAT.CO Energi fusi selama ini sering disebut sebagai salah satu kandidat sumber listrik masa depan karena prosesnya meniru reaksi yang membuat Matahari bersinar. Namun setelah para ilmuwan membuktikan bahwa fusi dapat menghasilkan energi dalam kondisi eksperimen, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih sulit: bisakah pembangkit listrik fusi beroperasi secara ekonomis?
Peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) kini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya menghitung temperatur plasma, kepadatan partikel, atau jumlah energi yang dihasilkan, mereka membuat kerangka yang memasukkan biaya pembangunan, efisiensi pembangkit, daya yang dihasilkan, ketahanan komponen, serta kondisi pasar energi.
Studi tersebut dipublikasikan MIT News pada Senin (10/08/2026). Professor Andrew W. Lo mengatakan pihaknya mengembangkan kerangka untuk menilai apakah pembangkit fusi dapat layak secara ekonomi, bukan hanya berhasil secara fisik.
“Sulit untuk mengubah persyaratan ilmiah dan rekayasa yang kompleks menjadi konsekuensi ekonomi. Namun jika kita tidak melakukannya, kita tidak akan mendapatkan pendanaan yang kita perlukan untuk mencapai dampak yang kita inginkan," ujar Andrew.
Dari Lawson Criterion Menuju “Economic Q”
Fusi nuklir bekerja dengan menggabungkan inti atom ringan sehingga menghasilkan energi. Dalam eksperimen, keberhasilan fusi sering dibahas menggunakan Lawson Criterion, yang menghubungkan temperatur plasma, kepadatan plasma, dan waktu pengurungan energi.
Salah satu ukuran pentingnya adalah plasma Q, yaitu perbandingan daya fusi yang dihasilkan dengan daya eksternal yang dibutuhkan untuk mempertahankan plasma. MIT mengatakan kerangka baru tersebut menggunakan gagasan serupa, tetapi menerapkannya pada persoalan ekonomi.
Professor Dennis Whyte menyebut konsepnya sebagai “economic Q”, yaitu perbandingan nilai modal yang diperoleh terhadap modal yang dikeluarkan. Agar pembangkit memiliki kelayakan dasar, nilainya harus lebih besar dari satu.
Kerangka tersebut menggunakan 10 parameter untuk mengevaluasi pembangkit fusi. Sebagiannya berhubungan dengan fisika dan rekayasa, sementara lainnya berkaitan dengan ekonomi. Faktor yang diperhitungkan mencakup kepadatan daya, efisiensi mengubah energi fusi menjadi produk ekonomi, ketahanan komponen, biaya pembangunan, serta kondisi pasar dan pengembalian investasi.
Pendekatan ini sengaja dibuat tidak bergantung pada satu desain reaktor tertentu. Artinya, kerangka tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai konsep pembangkit fusi, baik yang menggunakan medan magnet maupun pendekatan lain.
Whyte mengatakan persoalannya pada akhirnya tetap sama: pembangkit harus menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar daripada uang yang diperlukan untuk membangunnya.
Fusi Memasuki Fase Ketika Biaya Mulai Sama Pentingnya dengan Plasma
Perubahan fokus ini terjadi ketika industri fusi mulai menarik investasi swasta dalam jumlah besar. MIT mencatat bahwa National Ignition Facility di Livermore, California, telah mencapai reaksi dengan positive energy gain pada 2022.
Di saat yang sama, pendanaan dari investor swasta terus mengalir ke perusahaan-perusahaan yang mencoba mengembangkan pembangkit fusi komersial.
Salah satu perusahaan yang disebut MIT adalah Commonwealth Fusion Systems (CFS), perusahaan spin-off MIT yang didirikan bersama Dennis Whyte. CFS memperoleh putaran pendanaan baru senilai miliaran dolar dan menargetkan pembangkit listrik fusi pertamanya beroperasi pada dekade 2030-an di Virginia.
Masalahnya, membuktikan bahwa plasma menghasilkan energi bukan berarti pembangkit otomatis menjadi bisnis yang menguntungkan. Sebuah fasilitas komersial harus membayar konstruksi, material, sistem pendingin, magnet atau laser, perawatan, penggantian komponen, tenaga kerja, serta biaya operasi lainnya.
Komponen juga harus mampu bertahan dalam lingkungan ekstrem. Reaksi fusi menghasilkan kondisi yang sangat menantang bagi material pembangkit. Jika komponen harus terlalu sering diganti, biaya listrik yang dihasilkan dapat menjadi tidak kompetitif.
Di sinilah penelitian MIT memiliki dampak luas. Kerangka ekonomi memungkinkan pengembang mengukur konsekuensi dari keputusan teknis sejak tahap desain. Sebuah peningkatan efisiensi mungkin tampak kecil secara fisika, tetapi dapat memberikan perubahan besar terhadap biaya listrik jika diterapkan pada pembangkit dalam skala komersial.
Andrew Lo juga melihat kemungkinan adanya “learning by doing”. Ketika teknologi pertama mulai dibangun dan digunakan, pengalaman operasional dapat membantu industri menurunkan biaya pada generasi pembangkit berikutnya. Ia membandingkannya dengan perkembangan teknologi lain yang menjadi jauh lebih murah setelah pengalaman produksi meningkat.
Dampaknya, perlombaan fusi kini memasuki fase yang berbeda. Tantangannya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa reaksi fusi dapat dilakukan, tetapi membangun pembangkit yang dapat menghasilkan listrik secara konsisten dan menjualnya dengan harga yang masuk akal.
Jika kerangka ekonomi MIT dapat membantu pengembang mengidentifikasi desain yang benar-benar layak secara finansial, penelitian ini berpotensi menjadi jembatan antara keberhasilan laboratorium dan pembangkit listrik komersial.
Fusi mungkin akhirnya mampu meniru energi Matahari. Tetapi untuk benar-benar mengubah sistem energi dunia, satu syarat tambahan tetap harus dipenuhi: reaktor tersebut harus mampu menghasilkan lebih banyak nilai ekonomi daripada biaya yang dikeluarkan untuk membuatnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Infinix GT 50 Pro Dukung Kapolri Cup 2026, Polda Metro Jaya Juara
- 2Apple Dikabarkan Tunda iPhone 18 Reguler hingga 2027, Fokus ke Model Premium
- 3Chery Freelander 8 Mulai Pre-Order di China, Punya Tenaga 818 HP
- 4SpaceX Siapkan 1 Juta Satelit AI, Ilmuwan Khawatir Ganggu Iklim Bumi
- 5DeepSeek V4 Pro Resmi Dirilis, Harganya 14 Kali Lebih Mahal dari V4 Flash
- 6Samsung Pangkas Proses Desain Chip dari Sebulan Jadi Dua Hari Berkat Claude AI
- 7Daihatsu Raih 591 SPK di GIIAS 2026, K-Vision Sabet Penghargaan
- 8Google Pixel 11 Bisa Terjemahkan Bahasa Isyarat Jadi Teks Berkat AI
- 9Apple Siapkan 5 Perangkat Baru pada September 2026, Ada iPhone Lipat
- 10Apple Siapkan AI Sendiri untuk iPhone di China, Gandeng Alibaba






