Tekno

Kenapa Smart Home Belum Jadi Mainstream di Indonesia?

Winna Wandayani | 29 Mei 2026, 19:13 WIB
Kenapa Smart Home Belum Jadi Mainstream di Indonesia?
Ilustrasi Smart home (Freepik)

AKURAT.CO Perangkat smart home mulai semakin populer lewat produk seperti CCTV online, smart lamp dan smart lock. Namun, penggunaan teknologi ini masih belum benar-benar menjadi kebutuhan utama bagi banyak orang.

Meski mulai populer, smart home masih sering dianggap sebagai perangkat tambahan di rumah. Banyak orang belum melihat teknologi ini sebagai kebutuhan utama sehari-hari.

Faktor harga menjadi hambatan terbesar dalam adopsi smart home. Biaya perangkat dan instalasi masih dianggap mahal oleh banyak konsumen global, sebagaimana dikutip dari laporan NielsenIQ, Kamis (28/5/2026).

Untuk membangun sistem smart home sederhana, pengguna biasanya harus membeli lebih dari satu perangkat, seperti:

- CCTV online

- Sensor otomatis

- Smart lamp

- Smart plug

- Hub atau gateway tambahan

Biaya tambahan tersebut membuat total pengeluaran smart home terasa cukup besar bagi sebagian pengguna. Kondisi ini membuat banyak orang memilih membeli perangkat elektronik yang dianggap lebih penting terlebih dahulu.

Sebagian orang juga merasa proses pemasangan smart home masih terlalu rumit. Pengguna harus menghubungkan perangkat ke WiFi, aplikasi, hingga melakukan pembaruan sistem secara berkala.

Masalah tersebut membuat smart home lebih cepat diadopsi oleh pengguna yang akrab dengan teknologi. Penelitian Energy Research & Social Science menyebut banyak pengguna masih mengalami 'technology anxiety' saat memakai perangkat rumah pintar.

Baca Juga: Samsung Terancam Lumpuh! Ribuan Karyawan Siap Mogok, Produksi Chip AI Bisa Terganggu

Sebagian perangkat smart home sangat bergantung pada koneksi internet. Kondisi ini membuat fitur otomatisasi tidak selalu berjalan optimal saat jaringan bermasalah.

Hal ini cukup terasa pada perangkat seperti CCTV online atau smart lock yang membutuhkan akses real-time. Pengalaman penggunaan akhirnya menjadi kurang konsisten ketika jaringan bermasalah.

Selain internet, kompatibilitas antarperangkat juga masih menjadi masalah. Tidak semua perangkat smart home dari merek berbeda bisa terhubung otomatis dalam satu aplikasi.

Dikutip dari MarketsandMarkets, kurangnya standar integrasi masih menjadi tantangan utama industri smart home global. Akibatnya, pengguna sering harus memakai beberapa aplikasi sekaligus untuk mengontrol perangkat di rumah.

Kekhawatiran soal keamanan data juga membuat sebagian orang ragu menggunakan smart home. Kasus CCTV yang diretas dan kebocoran data pengguna mulai meningkatkan perhatian terhadap keamanan perangkat IoT.

Penelitian keamanan dari arXiv menemukan banyak perangkat smart home murah masih memiliki masalah seperti:

- Password default bawaan

- Sistem enkripsi lemah

- Update keamanan yang jarang tersedia

Risiko tersebut membuat pengguna khawatir soal privasi di rumah sendiri. Terutama untuk perangkat yang memakai kamera dan mikrofon aktif sepanjang waktu.

Meski begitu, pasar smart home global sebenarnya terus tumbuh setiap tahun. Faktor keamanan rumah dan kemudahan kontrol jarak jauh menjadi alasan utama orang mulai tertarik menggunakan perangkat pintar.

Beberapa produsen kini juga mulai menghadirkan perangkat yang lebih mudah dipasang dan digunakan. Harga produk smart home entry-level pun perlahan mulai turun dibanding beberapa tahun lalu.

Namun, smart home kemungkinan masih membutuhkan waktu sebelum benar-benar menjadi mainstream. Industri ini masih harus menyelesaikan masalah harga, kemudahan penggunaan, kompatibilitas dan keamanan data agar bisa diterima lebih luas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.