Tekno

Malware Baru Umbrij Curi Token Gmail, Peretas Tak Perlu Lagi Mengetahui Password

Yusuf Tirtayasa | 4 Agustus 2026, 20:19 WIB
Malware Baru Umbrij Curi Token Gmail, Peretas Tak Perlu Lagi Mengetahui Password
Ilustrasi peretas curi token Gmail. (AI)

AKURAT.CO Kelompok peretas yang dilacak sebagai ToddyCat diketahui menggunakan malware baru bernama Umbrij untuk membobol akun Gmail perusahaan dengan cara yang berbeda dari serangan konvensional.

Alih-alih mencuri kata sandi korban, malware tersebut memburu token OAuth yang digunakan Google API sehingga pelaku dapat mengakses email secara langsung.

Menurut laporan Kaspersky yang dikutip The Hacker News, kampanye ini menargetkan komunikasi email korporat yang dihosting di Gmail. Teknik tersebut memanfaatkan mekanisme autentikasi OAuth 2.0 sehingga aplikasi yang memperoleh token dapat mengakses data email sesuai izin yang diberikan.

Malware Gunakan Google API untuk Akses Email

Kaspersky menjelaskan bahwa pelaku mengembangkan Umbrij untuk memperoleh token OAuth, kemudian menghubungkannya ke browser melalui remote debugging port dalam mode headless.

Setelah itu malware menjalankan serangkaian permintaan untuk memperoleh OAuth authorization code yang ditukar menjadi access token guna mengakses kotak masuk Gmail melalui Google API.

Perusahaan keamanan tersebut juga menyebut teknik ini sebagai Shadow Token via Remote Debug (STRD), yakni metode baru yang memanfaatkan token autentikasi dibanding mencuri kredensial pengguna secara langsung.

Ancaman Token OAuth Semakin Meningkat

Serangan terhadap token OAuth semakin sering ditemukan dalam berbagai kampanye spionase siber karena token yang valid dapat memberikan akses ke layanan cloud tanpa harus memasukkan kembali username maupun password.

Pakar keamanan menyarankan organisasi melakukan audit rutin terhadap aplikasi yang memiliki izin OAuth, mencabut token yang tidak lagi digunakan, serta memantau aktivitas API untuk mendeteksi akses tidak wajar.

Penggunaan autentikasi multi-faktor tetap penting, tetapi organisasi juga perlu mengawasi penyalahgunaan token yang telah diterbitkan karena metode serangan modern kini semakin berfokus pada identitas digital dan hubungan kepercayaan antar aplikasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.