Jangan Asal Klik Link, Begini Cara Mengenali Modus Phishing Sebelum Jadi Korban

AKURAT.CO Pesan tentang paket yang gagal dikirim, akun bank yang akan diblokir, atau hadiah undian sering kali terlihat meyakinkan. Padahal, pesan seperti itu bisa menjadi bagian dari phishing, salah satu modus penipuan digital yang masih banyak memakan korban.
Phishing adalah upaya mencuri informasi penting, seperti username, password, kode OTP, hingga data perbankan dengan menyamar sebagai pihak yang tepercaya. Pelaku memanfaatkan kelengahan korban agar memberikan data tersebut secara sukarela.
Modus phishing kini tidak lagi terbatas pada email seperti beberapa tahun lalu. Pelaku juga memanfaatkan SMS, WhatsApp, media sosial, hingga aplikasi percakapan yang digunakan masyarakat setiap hari.
Dikutip dari Google Safety Center, Rabu (22/7/2026), pelaku kini membuat halaman phishing yang semakin mirip dengan situs resmi sehingga lebih sulit dikenali. AI juga mulai dimanfaatkan untuk menyusun pesan yang terlihat lebih meyakinkan.
Salah satu ciri phishing adalah adanya pesan yang meminta penerima segera mengambil tindakan. Misalnya, akun disebut akan dinonaktifkan, ada transaksi mencurigakan, atau pembayaran harus segera dikonfirmasi.
Menurut Microsoft, pelaku phishing kerap memanfaatkan rasa panik agar korban terburu-buru mengambil keputusan. Akibatnya, data yang dimasukkan ke situs palsu dapat langsung dicuri.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung membuka tautan yang dikirim melalui pesan. Jika menerima pemberitahuan yang mengatasnamakan bank atau layanan digital, lebih aman membuka aplikasi resmi atau mengetik sendiri alamat situs di browser.
Pengguna juga perlu memperhatikan alamat domain sebelum memasukkan informasi pribadi. Situs phishing sering memakai nama yang hampir sama dengan situs resmi sehingga perbedaannya hanya terletak pada beberapa karakter.
Selain memeriksa tautan, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) dapat memberikan lapisan keamanan tambahan. Fitur ini membantu melindungi akun meski password berhasil diketahui oleh pelaku.
Perusahaan resmi umumnya tidak akan meminta password maupun kode OTP melalui email, SMS, atau aplikasi pesan instan. Jika menerima permintaan seperti itu, pengguna sebaiknya langsung meningkatkan kewaspadaan.
Pelaku phishing terus mengubah caranya agar sesuai dengan kebiasaan pengguna internet yang terus berkembang. Karena itu, mengenali modus penipuan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kehilangan akun maupun data pribadi.
Semakin teliti seseorang memeriksa identitas pengirim, alamat situs dan isi pesan sebelum bertindak, semakin kecil peluang menjadi korban phishing. Di tengah aktivitas digital yang semakin padat, kewaspadaan tetap menjadi perlindungan pertama terhadap berbagai bentuk penipuan siber.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Infinix GT 50 Pro Dukung Kapolri Cup 2026, Polda Metro Jaya Juara
- 2Chery Freelander 8 Mulai Pre-Order di China, Punya Tenaga 818 HP
- 3Apple Dikabarkan Tunda iPhone 18 Reguler hingga 2027, Fokus ke Model Premium
- 4SpaceX Siapkan 1 Juta Satelit AI, Ilmuwan Khawatir Ganggu Iklim Bumi
- 5DeepSeek V4 Pro Resmi Dirilis, Harganya 14 Kali Lebih Mahal dari V4 Flash
- 6Samsung Pangkas Proses Desain Chip dari Sebulan Jadi Dua Hari Berkat Claude AI
- 7Daihatsu Raih 591 SPK di GIIAS 2026, K-Vision Sabet Penghargaan
- 8Google Pixel 11 Bisa Terjemahkan Bahasa Isyarat Jadi Teks Berkat AI
- 9Apple Siapkan 5 Perangkat Baru pada September 2026, Ada iPhone Lipat
- 10Apple Siapkan AI Sendiri untuk iPhone di China, Gandeng Alibaba









