Tekno

Smart Home dan AI: Apa yang Berubah Setelah ChatGPT dan Generative AI?

Winna Wandayani | 17 Juni 2026, 14:54 WIB
Smart Home dan AI: Apa yang Berubah Setelah ChatGPT dan Generative AI?
Ilustrasi Smart home (Pexels)

AKURAT.CO Kemunculan ChatGPT dan teknologi generative kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar pada industri smart home. Rumah pintar kini tidak hanya menjalankan perintah otomatis, tetapi juga mulai memahami konteks dan kebiasaan penggunanya.

Sebelum era AI generatif, sebagian besar perangkat smart home bekerja berdasarkan aturan yang ditentukan secara manual. Pengguna harus membuat skenario tertentu agar lampu, AC, atau perangkat lain dapat beroperasi secara otomatis.

Sistem tersebut memang membantu meningkatkan kenyamanan, tetapi sering kali dianggap kurang fleksibel. Perangkat hanya menjalankan perintah sesuai aturan yang telah diprogram tanpa memahami maksud pengguna.

Perkembangan large language model (LLM) seperti GPT dan Gemini mulai mengubah pendekatan tersebut. Teknologi ini membuat smart home dapat memahami instruksi dalam bahasa yang lebih natural dan percakapan sehari-hari, sebagaimana dikutip dari The Wall Street Journal, Senin (15/6/2026).

Pengguna kini tidak perlu lagi membuat banyak otomatisasi secara manual. AI dapat menerjemahkan perintah sederhana menjadi serangkaian tindakan yang melibatkan beberapa perangkat sekaligus.

Sebagai contoh, pengguna cukup mengatakan ingin menciptakan suasana santai untuk menonton film. Sistem kemudian dapat meredupkan lampu, mengatur suhu ruangan dan menyalakan perangkat hiburan secara otomatis.

Dikutip dari The Times of India, perusahaan teknologi besar juga mulai berlomba menghadirkan AI yang lebih canggih ke dalam ekosistem smart home mereka. Google memperkenalkan Gemini for Home, sementara Amazon terus mengembangkan kemampuan AI pada perangkat Alexa.

Tidak hanya menjalankan perintah, AI juga mulai belajar dari kebiasaan penghuni rumah. Sistem dapat mengenali pola penggunaan perangkat dan menyesuaikan pengaturan secara otomatis berdasarkan aktivitas sehari-hari.

Kemampuan tersebut membuat smart home bergerak dari otomatisasi berbasis aturan menuju otomatisasi berbasis prediksi. Rumah pintar tidak lagi sekadar menunggu perintah, tetapi juga dapat mengantisipasi kebutuhan pengguna.

Dikutip dari The Verge, perubahan juga terlihat pada sektor keamanan rumah. Kamera pintar kini dapat memanfaatkan AI untuk mengenali aktivitas tertentu dan memberikan notifikasi yang lebih relevan dibanding sekadar deteksi gerakan.

Beberapa sistem bahkan mampu mencari rekaman video menggunakan perintah bahasa alami. Pengguna cukup meminta AI menampilkan momen tertentu tanpa harus menelusuri rekaman secara manual.

Meski menawarkan banyak kemudahan, penerapan AI pada smart home masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah risiko kesalahan interpretasi ketika AI memahami instruksi pengguna.

Para pengamat menilai model AI terkadang masih memberikan respons yang tidak konsisten untuk perintah yang sama. Kondisi ini membuat beberapa fungsi smart home belum sepenuhnya dapat diandalkan dalam semua situasi.

Selain itu, isu privasi menjadi perhatian karena AI membutuhkan lebih banyak data untuk mempelajari kebiasaan pengguna. Semakin banyak data yang diproses, semakin penting pula perlindungan terhadap informasi pribadi penghuni rumah.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, tren integrasi AI ke smart home diperkirakan akan terus berkembang. Industri kini bergerak menuju rumah pintar yang mampu memahami konteks, belajar dari pengalaman dan berinteraksi dengan manusia secara lebih alami.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.