Tekno

Google Setujui Aturan Transparansi AI Eropa, Konten Buatan AI Bakal Makin Mudah Dikenali

Yusuf Tirtayasa | 26 Juli 2026, 15:39 WIB
Google Setujui Aturan Transparansi AI Eropa, Konten Buatan AI Bakal Makin Mudah Dikenali
Logo Google. (dok. Google)

AKURAT.CO Google mengambil langkah penting menghadapi regulasi kecerdasan buatan di Eropa dengan menandatangani Code of Practice on Transparency of AI-Generated Content. Keputusan ini memperlihatkan bagaimana perkembangan AI generatif mulai diikuti aturan yang lebih konkret mengenai transparansi, terutama ketika masyarakat semakin sulit membedakan foto, video, audio, dan teks buatan manusia dengan hasil kecerdasan buatan.

Komitmen tersebut berkaitan dengan penerapan EU AI Act, kerangka regulasi kecerdasan buatan Uni Eropa. Bagi pengguna internet, dampaknya dapat terasa langsung karena perusahaan pengembang AI harus semakin serius menyediakan informasi mengenai asal-usul konten sintetis dan membantu platform maupun masyarakat mengenali materi yang dihasilkan atau dimanipulasi AI.

Kent Walker selaku President of Global Affairs Google dan Alphabet menjelaskan pihaknya akan menandatangani kode praktik transparansi tersebut setelah terlibat dalam proses penyusunannya bersama berbagai pemangku kepentingan.

"Penandatanganan kode ini memperkuat komitmen kami terhadap transparansi dan pengembangan AI yang bertanggung jawab di Eropa," ujarnya dikutip dari Google Blog pada Jumat (24/07/2026).

Keputusan tersebut menjadi penting karena Google mengoperasikan berbagai produk AI berskala besar, mulai dari Gemini, Veo, Imagen, hingga layanan yang mengintegrasikan teknologi generatif ke produk konsumen.

SynthID Jadi Senjata Google Melacak Konten Buatan AI

Salah satu teknologi penting dalam strategi transparansi Google adalah SynthID, sistem yang dikembangkan Google DeepMind untuk memberikan penanda pada konten yang dihasilkan AI.

Berbeda dengan label visual biasa yang dapat dipotong atau dihapus dengan perangkat penyuntingan, SynthID dirancang menyisipkan penanda digital ke dalam konten. Teknologi tersebut telah dikembangkan untuk beberapa format media, termasuk gambar, audio, video, dan teks.

Tujuannya adalah membantu menentukan apakah sebuah konten dibuat menggunakan teknologi AI Google. Kebutuhan terhadap teknologi semacam ini semakin besar seiring meningkatnya kualitas model generatif.

Video AI modern, misalnya, dapat menghasilkan pencahayaan, gerakan kamera, objek, dan karakter yang semakin realistis. Tanpa mekanisme identifikasi, pengguna internet dapat kesulitan mengetahui asal sebuah konten.

Google juga mendukung standar C2PA, sebuah pendekatan industri untuk menyimpan informasi mengenai asal dan riwayat perubahan konten digital. Kombinasi watermark dan metadata menjadi salah satu strategi yang sedang dikembangkan industri untuk menghadapi penyebaran media sintetis.

Persoalannya bukan hanya deepfake. Transparansi juga diperlukan ketika AI digunakan untuk membuat materi komersial, konten kreator, komunikasi politik, pendidikan, hingga informasi yang beredar melalui platform sosial.

Kode praktik Eropa mencoba menciptakan kerangka agar pengembang model dan penyedia layanan memiliki tanggung jawab lebih jelas dalam persoalan tersebut.

Era Konten AI Membutuhkan “Label Asal” Digital

Keputusan Google juga menunjukkan perubahan besar dalam perdebatan regulasi AI. Beberapa tahun terakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemampuan model: seberapa pintar chatbot menjawab pertanyaan atau seberapa realistis generator video menghasilkan adegan.

Sekarang, persoalan berikutnya muncul: bagaimana masyarakat mengetahui sesuatu dibuat oleh AI?Masalah ini akan semakin kompleks ketika pembuatan konten sintetis menjadi bagian normal dari aplikasi sehari-hari.

Label yang terlalu sederhana juga belum tentu cukup. Sebuah foto asli, misalnya, dapat diedit sebagian menggunakan AI. Video manusia dapat memakai suara sintetis, sementara dokumen yang ditulis manusia mungkin hanya memperoleh bantuan AI pada beberapa paragraf.

Karena itu, sistem transparansi masa depan kemungkinan membutuhkan informasi lebih rinci daripada sekadar label “dibuat dengan AI”.

EU AI Act dapat mendorong perusahaan teknologi mengembangkan standar tersebut lebih cepat. Ketika pasar sebesar Uni Eropa menetapkan kewajiban transparansi, teknologi yang awalnya dibuat untuk memenuhi regulasi regional berpotensi diterapkan lebih luas pada produk global.

Namun teknologi identifikasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan misinformasi. Watermark dapat menghadapi manipulasi, metadata dapat hilang ketika file diproses ulang, sementara model AI dari berbagai penyedia belum tentu menggunakan standar yang sama.

Dampak terbesarnya karena itu mungkin bukan satu fitur tertentu, melainkan terbentuknya infrastruktur kepercayaan untuk internet pada era AI generatif.

Ketika kemampuan membuat media sintetis semakin mudah diakses, kemampuan memverifikasi asal sebuah konten akan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membuatnya.

Keputusan Google mengikuti kode transparansi Eropa menunjukkan bahwa persaingan AI berikutnya bukan hanya tentang menghasilkan konten paling realistis, tetapi juga tentang membuktikan dari mana konten tersebut berasal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.