Tekno

Studi Ungkap AI Kini Jadi Senjata Utama Hacker

Yusuf Tirtayasa | 23 Mei 2026, 14:48 WIB
Studi Ungkap AI Kini Jadi Senjata Utama Hacker

AKURAT.CO Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia serangan siber kini berkembang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Laporan terbaru Verizon Data Breach Investigations Report 2026 mengungkap bahwa pelaku kejahatan digital mulai memakai AI untuk mempercepat proses pencarian celah keamanan software hingga membantu pengembangan malware otomatis.

Dalam laporan tersebut, Verizon menyebut eksploitasi vulnerability kini melampaui pencurian kredensial sebagai penyebab utama kebocoran data global. Dari lebih dari 31 ribu insiden keamanan yang dianalisis, sekitar 31 persen pelanggaran keamanan dimulai dari eksploitasi celah software.

Mengutip Reuters, Perubahan ini menunjukkan pola serangan siber modern mulai bergeser ke otomatisasi berbasis AI. Teknologi generatif kini dipakai untuk membantu berbagai tahap serangan, mulai dari targeting, akses awal ke sistem, hingga pengembangan tools berbahaya.

Verizon juga menyoroti peningkatan penggunaan “Shadow AI” atau pemakaian AI tanpa izin internal perusahaan. Aktivitas tersebut kini menjadi salah satu penyebab utama kebocoran data non-malicious di lingkungan kerja digital.

Hacker Mulai Gunakan AI untuk Eksploitasi Cepat

Laporan Verizon menyebut AI mampu mempercepat proses eksploitasi vulnerability dari hitungan bulan menjadi hanya beberapa jam. Kondisi itu membuat perusahaan memiliki waktu respons yang jauh lebih sempit dibanding sebelumnya.

Teknologi AI generatif juga dipakai untuk membuat phishing email lebih realistis dan membantu otomatisasi malware modern. Banyak sistem keamanan tradisional disebut kesulitan menghadapi pola serangan baru tersebut.

Verizon mengatakan penggunaan AI dalam operasi hacking kini berkembang di hampir semua tahap serangan digital. Mulai dari identifikasi target hingga pengembangan exploit otomatis dilakukan dengan bantuan model AI modern.

Laporan tersebut juga menyinggung meningkatnya perhatian terhadap model AI cybersecurity seperti Mythos milik Anthropic yang memiliki kemampuan analisis vulnerability tingkat tinggi.

Industri Keamanan Siber Tingkatkan Pertahanan AI

Meningkatnya ancaman AI offensive cyber membuat perusahaan teknologi mulai mempercepat investasi keamanan digital berbasis AI. Banyak vendor cybersecurity kini mengembangkan sistem deteksi otomatis untuk menghadapi serangan generatif.

Nilai industri cybersecurity global diperkirakan terus meningkat hingga miliaran dolar AS dalam beberapa tahun mendatang. Dengan kurs sekitar Rp16.400 per dolar AS, nilainya setara puluhan triliun rupiah.

Perusahaan juga mulai memperketat kebijakan penggunaan AI internal untuk mencegah kebocoran data akibat Shadow AI. Risiko pengiriman data sensitif ke platform AI publik kini menjadi perhatian utama banyak organisasi.

Verizon menilai perkembangan AI dalam dunia keamanan digital akan terus meningkat seiring kemampuan model AI yang semakin kompleks dan lebih mudah diakses publik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.