AKURAT.CO Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia serangan siber kini berkembang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Laporan terbaru Verizon Data Breach Investigations Report 2026 mengungkap bahwa pelaku kejahatan digital mulai memakai AI untuk mempercepat proses pencarian celah keamanan software hingga membantu pengembangan malware otomatis.
Dalam laporan tersebut, Verizon menyebut eksploitasi vulnerability kini melampaui pencurian kredensial sebagai penyebab utama kebocoran data global. Dari lebih dari 31 ribu insiden keamanan yang dianalisis, sekitar 31 persen pelanggaran keamanan dimulai dari eksploitasi celah software.
Mengutip Reuters, Perubahan ini menunjukkan pola serangan siber modern mulai bergeser ke otomatisasi berbasis AI. Teknologi generatif kini dipakai untuk membantu berbagai tahap serangan, mulai dari targeting, akses awal ke sistem, hingga pengembangan tools berbahaya.
Verizon juga menyoroti peningkatan penggunaan “Shadow AI” atau pemakaian AI tanpa izin internal perusahaan. Aktivitas tersebut kini menjadi salah satu penyebab utama kebocoran data non-malicious di lingkungan kerja digital.
Hacker Mulai Gunakan AI untuk Eksploitasi Cepat
Laporan Verizon menyebut AI mampu mempercepat proses eksploitasi vulnerability dari hitungan bulan menjadi hanya beberapa jam. Kondisi itu membuat perusahaan memiliki waktu respons yang jauh lebih sempit dibanding sebelumnya.
Teknologi AI generatif juga dipakai untuk membuat phishing email lebih realistis dan membantu otomatisasi malware modern. Banyak sistem keamanan tradisional disebut kesulitan menghadapi pola serangan baru tersebut.
Verizon mengatakan penggunaan AI dalam operasi hacking kini berkembang di hampir semua tahap serangan digital. Mulai dari identifikasi target hingga pengembangan exploit otomatis dilakukan dengan bantuan model AI modern.
Laporan tersebut juga menyinggung meningkatnya perhatian terhadap model AI cybersecurity seperti Mythos milik Anthropic yang memiliki kemampuan analisis vulnerability tingkat tinggi.
Industri Keamanan Siber Tingkatkan Pertahanan AI
Meningkatnya ancaman AI offensive cyber membuat perusahaan teknologi mulai mempercepat investasi keamanan digital berbasis AI. Banyak vendor cybersecurity kini mengembangkan sistem deteksi otomatis untuk menghadapi serangan generatif.
Nilai industri cybersecurity global diperkirakan terus meningkat hingga miliaran dolar AS dalam beberapa tahun mendatang. Dengan kurs sekitar Rp16.400 per dolar AS, nilainya setara puluhan triliun rupiah.
Perusahaan juga mulai memperketat kebijakan penggunaan AI internal untuk mencegah kebocoran data akibat Shadow AI. Risiko pengiriman data sensitif ke platform AI publik kini menjadi perhatian utama banyak organisasi.
Verizon menilai perkembangan AI dalam dunia keamanan digital akan terus meningkat seiring kemampuan model AI yang semakin kompleks dan lebih mudah diakses publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Mitsubishi Pajero Baru Berpotensi Hadir dengan Varian Ralliart, Ini Bocorannya
- 2Daftar iPhone, iPad, hingga Mac yang Mendukung Siri AI Baru dari Apple
- 3Galaxy Z Fold 8 Ultra Kembali Bocor, Pertahankan Desain Khas Seri Fold
- 4Pemerintah AS Perintahkan Anthropic Hentikan Fable 5 dan Mythos 5
- 5vivo X Fold6 Resmi Meluncur 26 Juni, Pre-Order Sudah Dibuka di China
- 6Insta360 Luna Ultra Meluncur, Kamera Gimbal Saku Penantang DJI Osmo Pocket
- 7Apa Itu Matter? Teknologi Smart Home yang Bikin Perangkat Beda Merek Bisa Terhubung
- 8Bocoran Oppo Find N7 Terungkap, Ponsel Lipat Layar Lebar Siap Hadir pada 2027
- 9WhatsApp Uji Coba Panggilan Suara dan Video Grup di Versi Web
- 10Opera Android Punya Tampilan Baru dan Fitur Khusus Sepak Bola Ramaikan Piala Dunia 2026






