Tekno

Rusia Masukkan Pavel Durov ke Daftar Buronan Internasional, Telegram Dituding Terlibat Aktivitas Teror

Winna Wandayani | 31 Juli 2026, 16:10 WIB
Rusia Masukkan Pavel Durov ke Daftar Buronan Internasional, Telegram Dituding Terlibat Aktivitas Teror
Pavel Durov selaku CEO Telegram (Postingan Pavel Durov di Instagram)

AKURAT.CO Pemerintah Rusia berencana memasukkan pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, ke dalam daftar buronan internasional. Hal ini menjadi eskalasi terbaru dalam perselisihan antara Kremlin dan pengelola aplikasi pesan populer tersebut.

Durov dituduh Federal Security Service (FSB) Rusia memfasilitasi aktivitas teroris melalui Telegram. Tuduhan itu muncul karena platform tersebut dinilai tidak menghapus percakapan yang diduga digunakan intelijen Ukraina untuk mengatur serangan di Rusia.

"CEO Telegram P. Durov telah didakwa sehubungan dengan penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung," kata FSB, dikutip dari Financial Times, Kamis (30/7/2026).

FSB menuding Telegram gagal menghapus sejumlah kanal, grup percakapan dan bot yang diduga digunakan untuk aktivitas ilegal. Konten ini disebut berkaitan dengan persiapan aksi sabotase, terorisme, pembunuhan massal, hingga penipuan siber di Rusia.

"Telegram gagal menghapus banyak saluran, obrolan dan bot yang digunakan oleh Ukraina untuk mempersiapkan dan mengoordinasikan tindakan sabotase dan terorisme, pembunuhan massal dan penipuan dunia maya di Federasi Rusia," ujar FSB.

Atas tuduhan tersebut, Durov dapat menghadapi hukuman hingga 15 tahun penjara. Sejumlah laporan media Rusia juga menyebut hukuman tersebut berpotensi diperpanjang hingga seumur hidup.

Durov diketahui meninggalkan Rusia pada 2014 dan kini memiliki kewarganegaraan Prancis serta Uni Emirat Arab. Pengacaranya di Prancis, Philippe de Vel, mengatakan Prancis tidak mengekstradisi warga negaranya ke negara lain.

Menurut de Vel, jika Rusia mengajukan permintaan melalui Interpol, Prancis akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ia menyebut permintaan tersebut tidak akan ditindaklanjuti apabila dianggap bermuatan politik.

Kasus ini muncul ketika Rusia memperketat pengawasan terhadap layanan internet di negaranya. Telegram menjadi salah satu platform yang mendapat perhatian karena masih digunakan masyarakat Rusia untuk mengakses berbagai jenis informasi.

Sebelumnya, regulator internet Rusia, Roskomnadzor, mulai membatasi akses Telegram. Meski mengalami gangguan, aplikasi tersebut tetap banyak digunakan dan masih dapat diakses melalui jaringan VPN.

Telegram tercatat memiliki lebih dari 1 miliar pengguna global. Platform ini dikenal karena menawarkan fitur privasi dan anonimitas yang menjadi alasan utama banyak pengguna memilih layanan tersebut.

Namun, pendekatan privasi Telegram juga membuat platform ini beberapa kali mendapat tekanan dari berbagai negara. Pemerintah sejumlah negara menilai layanan tersebut dapat dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal jika tidak dilakukan pengawasan yang cukup.

Durov juga pernah tersandung kasus hukum di Prancis pada 2024 terkait tuduhan Telegram kurang serius menangani aktivitas ilegal di platformnya. Ia membantah tuduhan tersebut dan menilai Rusia hanya mencari alasan baru untuk membatasi akses masyarakat Rusia terhadap Telegram.

Telegram belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan terbaru dari Rusia. Namun, akun Telegram di X sempat membagikan ulang foto lama Durov yang menunjukkan gestur jari tengah, yang dianggap sebagian pengguna sebagai respons atas kasus tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.