Tekno

Karyawan OpenAI Raup Miliaran Dolar dari Penjualan Saham

Yusuf Tirtayasa | 11 Mei 2026, 14:54 WIB
Karyawan OpenAI Raup Miliaran Dolar dari Penjualan Saham

AKURAT.CO OpenAI kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru mengungkap besarnya keuntungan yang diperoleh para karyawannya dari penjualan saham internal perusahaan.

Dalam transaksi yang berlangsung pada Oktober 2025, lebih dari 600 karyawan aktif dan mantan karyawan OpenAI menjual saham senilai total sekitar US$6,6 miliar atau setara sekitar Rp107,8 triliun (kurs Rp16.340 per dolar AS).

Laporan yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal menyebut sekitar 75 orang berhasil menjual saham hingga batas maksimum US$30 juta per orang atau sekitar Rp490 miliar. Penjualan saham tersebut menjadi salah satu momen terbesar dalam sejarah industri teknologi modern, bahkan sebelum perusahaan melakukan initial public offering (IPO).

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ledakan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menciptakan gelombang kekayaan baru di Silicon Valley dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

OpenAI Jadi Startup AI Paling Bernilai

OpenAI saat ini disebut sebagai startup teknologi paling bernilai di dunia dengan valuasi mencapai sekitar US$500 miliar atau setara Rp8.170 triliun. Valuasi tersebut diperoleh setelah investor membeli saham milik karyawan dalam transaksi tender offer yang berlangsung pada 2025.

Kenaikan valuasi yang sangat cepat membuat saham para pegawai awal OpenAI melonjak lebih dari 100 kali lipat dalam tujuh tahun terakhir. Situasi ini dinilai jauh melampaui gelombang kekayaan yang pernah terjadi pada era IPO perusahaan teknologi seperti Google maupun Facebook.

Selain valuasi besar, OpenAI juga dikenal memberikan kompensasi tinggi kepada para peneliti dan engineer AI. Data yang dilaporkan Wall Street Journal menunjukkan rata-rata kompensasi berbasis saham di OpenAI mencapai sekitar US$1,5 juta atau sekitar Rp24,5 miliar per karyawan pada 2025.

Persaingan industri AI yang semakin ketat membuat perusahaan teknologi berlomba mempertahankan talenta terbaik. Bahkan, beberapa perusahaan teknologi disebut menawarkan paket kompensasi ratusan juta dolar untuk peneliti AI papan atas.

Ledakan AI Dorong Perubahan Silicon Valley

Laporan tersebut juga menyebut lonjakan kekayaan pegawai AI mulai memengaruhi kondisi ekonomi di San Francisco dan kawasan teknologi lainnya. Harga sewa properti meningkat dan muncul kekhawatiran mengenai kesenjangan ekonomi baru akibat ledakan industri AI.

Meski demikian, OpenAI juga menghadapi tantangan besar. Beberapa laporan menyebut perusahaan sempat meleset dari target pertumbuhan pengguna dan pendapatan internal di tengah tingginya biaya pengembangan pusat data AI.

Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, bahkan disebut khawatir perusahaan kesulitan membiayai kontrak komputasi besar jika pertumbuhan pendapatan tidak cukup cepat. OpenAI diketahui memiliki komitmen pengeluaran pusat data hingga ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun mendatang.

Di sisi lain, CEO OpenAI Sam Altman disebut masih mendorong ekspansi besar-besaran untuk mempertahankan dominasi perusahaan di industri AI global. OpenAI juga dikabarkan mulai mempersiapkan langkah menuju IPO yang berpotensi menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah teknologi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.