Tekno

Keamanan Siber Kini Bukan Lagi Urusan Ahli IT, Mengapa Semua Orang Harus Peduli?

Winna Wandayani | 7 Agustus 2026, 17:07 WIB
Keamanan Siber Kini Bukan Lagi Urusan Ahli IT, Mengapa Semua Orang Harus Peduli?
Ilustrasi keamanan siber. (Pexels)

AKURAT.CO Dulu, keamanan siber lebih sering dikaitkan dengan perusahaan teknologi, peretas profesional, atau divisi IT di perusahaan besar. Kini anggapan tersebut sudah tidak lagi relevan.

Hampir setiap orang kini menyimpan identitas digital di ponsel, mulai dari akun media sosial, email, dompet digital, hingga mobile banking. Kondisi ini membuat pengguna internet biasa ikut menjadi sasaran kejahatan siber.

Pelaku kini tidak selalu harus membobol sistem perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Menipu pengguna biasa justru lebih mudah karena memanfaatkan kelengahan, rasa panik, atau minimnya literasi digital.

AI Membuat Modus Penipuan Semakin Meyakinkan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu faktor yang mengubah lanskap keamanan siber. AI kini tidak hanya dimanfaatkan untuk memperkuat sistem keamanan, tetapi juga digunakan pelaku kejahatan untuk melancarkan serangan yang lebih canggih.

Dikutip dari Reuters, Jumat (7/8/2026), pemerintah Amerika Serikat bersama Google, OpenAI, Anthropic dan lainnya meningkatkan pengujian keamanan model AI. Hal ini dilakukan karena kemampuan AI dalam simulasi serangan siber dinilai berpotensi disalahgunakan.

AI dapat membantu mendeteksi ancaman siber dengan lebih cepat. Namun, teknologi yang sama juga dimanfaatkan pelaku untuk membuat email phishing, pesan palsu dan rekayasa sosial yang semakin meyakinkan.

Pengguna Biasa Kini Menjadi Target Utama

Berbeda dengan beberapa tahun lalu, pelaku siber kini lebih sering membidik masyarakat umum dibanding membobol sistem perusahaan. Pengguna individu dinilai lebih mudah menjadi korban karena sering kali menjadi titik terlemah dalam rantai keamanan digital.

Modus penipuan pun semakin beragam, mulai dari pesan WhatsApp yang mengatasnamakan kurir, email palsu dari bank, hingga situs login tiruan. Ada pula telepon yang meminta kode OTP dengan tujuan membuat korban menyerahkan informasi penting secara sukarela.

Reuters melaporkan Google menggugat pembuat kit phishing yang memanfaatkan AI untuk membuat situs palsu dan mencuri data pengguna. Kasus tersebut menunjukkan bahwa AI juga dimanfaatkan untuk mempercepat penyebaran berbagai modus penipuan digital.

Password Mulai Kehilangan Perannya

Selama bertahun-tahun, password menjadi benteng utama untuk melindungi akun digital. Namun, banyak perusahaan teknologi kini menilai metode tersebut tidak lagi cukup menghadapi serangan phishing modern.

Melalui Google Online Security Blog, Google menjelaskan bahwa passkey dirancang agar pengguna tidak lagi bergantung pada password. Metode ini menggunakan autentikasi biometrik atau PIN perangkat sehingga lebih tahan terhadap upaya phishing.

Pandangan serupa juga disampaikan Microsoft Security. Dalam pernyataannya, Microsoft menyebut serangan phishing kini semakin banyak memanfaatkan AI.

Karena itu, Microsoft menilai akun tidak seharusnya hanya mengandalkan password sebagai lapisan keamanan utama. Perusahaan juga menyebut passkey lebih tahan terhadap phishing dibanding password maupun beberapa metode autentikasi lama.

Teknologi Saja Tidak Akan Cukup

Meski berbagai perusahaan terus memperkuat sistem keamanan, teknologi tidak bisa sepenuhnya melindungi pengguna. Kebiasaan digital yang kurang baik masih menjadi celah yang sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.

Menggunakan password yang sama di banyak akun, mengabaikan pembaruan perangkat lunak, hingga mengklik tautan tanpa memeriksa alamat situs dapat meningkatkan risiko akun diretas. Membagikan kode OTP kepada orang lain juga masih menjadi salah satu penyebab utama pengambilalihan akun.

Karena itu, keamanan siber bukan hanya soal memiliki antivirus atau menggunakan ponsel terbaru. Mengaktifkan autentikasi dua faktor, memakai passkey, rutin memperbarui perangkat dan selalu memverifikasi identitas pengirim pesan dapat membantu menjaga keamanan akun.

Literasi Digital Menjadi Pertahanan Pertama

Semakin berkembangnya AI membuat batas antara informasi asli dan palsu semakin tipis. Foto, suara, hingga video kini dapat dimanipulasi sehingga terlihat sangat meyakinkan, sementara pesan phishing juga semakin sulit dibedakan dari komunikasi resmi.

Di tengah kondisi tersebut, literasi digital menjadi pertahanan pertama yang dimiliki masyarakat. Kemampuan mengenali modus penipuan, menjaga data pribadi dan memahami cara kerja layanan digital akan jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan teknologi keamanan.

Keamanan Siber Adalah Tanggung Jawab Semua Orang

Keamanan siber kini bukan lagi isu yang hanya relevan bagi ahli IT atau perusahaan teknologi. Siapa pun yang memiliki akun email, media sosial, e-wallet, hingga mobile banking memiliki risiko yang sama untuk menjadi sasaran kejahatan digital.

Seiring AI berkembang dan kehidupan semakin bergantung pada internet, menjaga keamanan akun digital telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Pada akhirnya, pertahanan terbaik bukan hanya berasal dari teknologi, tetapi juga dari pengguna yang memahami cara melindungi dirinya sendiri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.