Tekno

Reuters Peringatkan AI Bisa Mengancam Masa Depan Jurnalisme, Ini Sebabnya

Yusuf Tirtayasa | 30 Juli 2026, 20:18 WIB
Reuters Peringatkan AI Bisa Mengancam Masa Depan Jurnalisme, Ini Sebabnya

AKURAT.CO Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara masyarakat mencari dan mengonsumsi informasi. Di sisi lain, teknologi yang sama juga memunculkan kekhawatiran baru bagi industri media.

Reuters menilai tantangan terbesar bukan semata-mata kemampuan AI menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, melainkan bagaimana teknologi tersebut memanfaatkan karya jurnalistik yang diproduksi dengan biaya besar tanpa selalu memberikan atribusi maupun kompensasi yang layak.

Fenomena ini menjadi perhatian karena semakin banyak masyarakat memperoleh informasi melalui chatbot AI dibandingkan langsung mengunjungi situs berita. Jika tren tersebut terus meningkat tanpa model bisnis yang sehat bagi media, kemampuan organisasi berita untuk membiayai peliputan investigatif dan liputan lapangan berpotensi ikut tergerus.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Alessandra Galloni, Editor-in-Chief Reuters, dalam Andrew Olle Media Lecture di Sydney yang dipublikasikan Reuters pada 23 Juli 2026. Galloni mengatakan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas ruang redaksi, tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan jurnalisme apabila penggunaan konten dilakukan tanpa persetujuan, atribusi, maupun kompensasi yang adil.

Ia menegaskan bahwa menjaga independensi editorial dan kepercayaan publik tetap menjadi prioritas Reuters di tengah perkembangan AI.

Menurut laporan Reuters Institute Digital News Report 2026 yang dikutip dalam pidato tersebut, sekitar 10% konsumen berita global kini menggunakan chatbot AI sebagai salah satu sumber informasi. Pada kelompok usia di bawah 35 tahun, angkanya mencapai 16%, menunjukkan perubahan perilaku yang semakin cepat dibanding beberapa tahun sebelumnya.

AI Mengubah Cara Orang Mengakses Berita

Selama bertahun-tahun, mesin pencari dan media sosial menjadi pintu utama masyarakat menemukan berita. Kini, chatbot AI mulai mengambil peran serupa dengan menyajikan ringkasan informasi tanpa pengguna harus membuka artikel asli.

Bagi pembaca, pengalaman ini terasa lebih praktis. Namun bagi organisasi media, perubahan tersebut memunculkan pertanyaan penting mengenai keberlanjutan ekonomi jurnalisme.

Produksi berita berkualitas memerlukan reporter, editor, fotografer, koresponden lapangan, hingga proses verifikasi yang panjang. Jika hasil kerja tersebut digunakan untuk melatih atau mendukung sistem AI tanpa mekanisme yang jelas, maka sumber pendanaan media dapat ikut terdampak.

Galloni menjelaskan bahwa Reuters justru memanfaatkan AI di dalam ruang redaksi untuk mempercepat proses tertentu, seperti membantu alur kerja dan meningkatkan efisiensi. Namun setiap informasi yang diterbitkan tetap melalui pengawasan manusia dan standar editorial yang ketat.

Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti proses jurnalistik yang bertanggung jawab. Perdebatan mengenai hak cipta juga semakin mengemuka.

Sejumlah perusahaan media di berbagai negara memilih menempuh jalur hukum, sementara sebagian lainnya membuat perjanjian lisensi dengan perusahaan AI. Reuters menilai belum ada satu solusi yang dapat diterapkan untuk semua pihak sehingga diperlukan kepastian regulasi dan model kerja sama yang adil.

Masa Depan Berita Bergantung pada Kepercayaan

Di tengah pesatnya perkembangan AI generatif, kepercayaan menjadi aset yang semakin berharga. Ketika informasi palsu dapat diproduksi dalam skala besar, organisasi berita dituntut menjaga akurasi sekaligus membuktikan nilai tambah yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Reuters menilai masa depan jurnalisme bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki AI paling canggih, melainkan oleh kemampuan menghadirkan informasi yang dapat diverifikasi, independen, dan dipercaya publik.

Karena itu, Galloni mengajak industri media untuk bekerja sama menyusun praktik terbaik dalam penggunaan AI, termasuk menjaga keselamatan jurnalis, melindungi hak kekayaan intelektual, serta memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Menurutnya, tantangan AI tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut masa depan demokrasi dan akses masyarakat terhadap informasi yang akurat.

Perubahan perilaku pembaca kemungkinan akan terus berlangsung. Chatbot AI akan menjadi salah satu cara masyarakat memperoleh informasi, tetapi kebutuhan terhadap laporan asli dari lapangan tetap tidak akan hilang.

AI dapat merangkum sebuah berita, namun tidak dapat menggantikan proses peliputan, wawancara, investigasi, dan verifikasi yang menjadi fondasi jurnalisme profesional.

Dengan demikian, masa depan industri media tidak bergantung pada memilih antara AI atau jurnalisme. Tantangan sebenarnya adalah membangun ekosistem di mana inovasi teknologi berkembang tanpa mengorbankan keberlangsungan organisasi berita yang menghasilkan informasi berkualitas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.