Tekno

AI Hermes Dipakai dalam Serangan Kementerian Keuangan Thailand

Yusuf Tirtayasa | 24 Juli 2026, 23:20 WIB
AI Hermes Dipakai dalam Serangan Kementerian Keuangan Thailand

AKURAT.CO Kecerdasan buatan kini mulai mengambil peran yang lebih jauh dalam operasi serangan siber. Sebuah investigasi menemukan operator menggunakan Hermes AI Agent dalam intrusi terhadap jaringan Kementerian Keuangan Thailand, kemudian membiarkan sistem tersebut menjalankan serangkaian aktivitas pasca-eksploitasi secara otomatis tanpa harus meminta persetujuan manusia untuk setiap perintah.

Kasus ini menarik perhatian karena Hermes bukan perangkat peretasan. Hermes merupakan asisten AI open-source buatan Nous Research yang dapat digunakan untuk mengelola email, menjalankan berbagai tugas, hingga menerima instruksi melalui Telegram atau Slack. Dalam insiden ini, operator mengaktifkan mode yang menghilangkan konfirmasi manusia sebelum AI menjalankan perintah berisiko.

AI Memindai Jaringan hingga Membaca Direktori Data Pegawai

Berdasarkan laporan The Hacker News, operator memasang Hermes pada server sewaan dan mengaktifkan mode YOLO. Mode tersebut merupakan fitur resmi Hermes yang dapat diaktifkan untuk melewati permintaan persetujuan sebelum perintah dijalankan.

Setelah diaktifkan, AI melakukan pekerjaan berulang secara mandiri: menjalankan pemindaian, membaca hasilnya, menentukan pemeriksaan berikutnya, lalu menjalankan perintah lain. Aktivitasnya mencakup pencarian jalur untuk meningkatkan hak akses, pemeriksaan file dengan izin tinggi, hingga penelusuran sistem file.

Hermes juga menelusuri direktori web milik Office of the Permanent Secretary. Direktori itu berisi dokumen Office, evaluasi kinerja, dan catatan personel yang berasal dari tahun 2012. Log menunjukkan AI membaca direktori tersebut, tetapi bukti yang ditemukan tidak menunjukkan file-file itu telah dikeluarkan dari jaringan.

Jejak operasi tersebut ditemukan oleh perusahaan threat intelligence Hunt.io bersama peneliti keamanan Bob Diachenko. Operator ternyata meninggalkan log Hermes di server web dengan directory listing terbuka. Peneliti menemukan 585 file dan sekitar 470 MB perangkat serangan di sana.

Bukan AI yang Memilih Target atau Menemukan Celah Baru

Temuan penting lainnya adalah manusia tetap memainkan peran utama dalam menentukan target. Operator sudah memiliki akses ke lingkungan korban sebelum Hermes mulai bekerja. Peneliti menemukan web shell tersembunyi, skrip yang secara khusus menyasar sistem Hadoop internal, serta kata sandi mailbox yang ditanam langsung dalam sebuah skrip pengujian email.

The Hacker News menegaskan tidak ada bukti dalam material yang ditemukan bahwa Hermes memilih target sendiri atau menemukan kerentanan baru. AI terutama mengambil alih pekerjaan repetitif yang biasanya dilakukan operator manusia secara manual.

Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa penggunaan mode YOLO tidak menghilangkan seluruh perlindungan Hermes. Sistem masih memiliki hardline blocklist yang menolak perintah tertentu, termasuk tindakan yang dapat menghapus mesin tempat agen tersebut berjalan. Yang dimatikan operator adalah pemeriksaan manusia sebelum tindakan dijalankan.

Dokumentasi konfigurasi Hermes sendiri memperingatkan mengenai penggunaan mode tersebut:

“Gunakan ini hanya di lingkungan tepercaya dan terisolasi.”

Thailand National CERT dan lembaga keamanan siber negara tersebut telah diberi tahu mengenai temuan ini pada 15 Juli. Hingga The Hacker News melakukan pengecekan pada 24 Juli, keduanya belum menerbitkan pernyataan publik terkait kasus tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.