Tekno

Saham Apple Merosot, Nilai Perusahaan Hilang Rp4.938 Triliun Setelah Umumkan Kenaikan Harga

Winna Wandayani | 27 Juni 2026, 09:40 WIB
Saham Apple Merosot, Nilai Perusahaan Hilang Rp4.938 Triliun Setelah Umumkan Kenaikan Harga
Apple (Apple.com)

AKURAT.CO Keputusan Apple menaikkan harga sejumlah produknya langsung mendapat respons negatif dari pasar. Saham perusahaan anjlok lebih dari 5 persen dalam perdagangan Kamis setelah pengumuman tersebut.

Dikutip dari Forbes, Jumat (26/6/2026), penurunan harga saham membuat kapitalisasi pasar Apple menyusut sekitar US$275 miliar atau sekitar Rp4.938 triliun. Nilai perusahaan kini berada sedikit di atas US$4 triliun atau sekitar Rp71.828 triliun.

Pelemahan itu membuat Apple turun ke posisi ketiga sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Posisinya disalip Alphabet, sementara Nvidia masih bertahan di peringkat teratas.

Investor menilai kenaikan harga produk berpotensi memengaruhi minat beli konsumen. Kekhawatiran tersebut memicu aksi jual saham Apple sepanjang sesi perdagangan.

Beberapa analis juga menyoroti potensi tekanan terhadap penjualan apabila harga perangkat terus meningkat. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi pertumbuhan pendapatan Apple dalam beberapa kuartal ke depan.

CEO Apple Tim Cook sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa kenaikan harga sulit dihindari. Menurutnya, lonjakan biaya komponen memaksa perusahaan melakukan penyesuaian pada sejumlah produk.

Apple juga memberi sinyal bahwa kenaikan harga saat ini belum tentu menjadi yang terakhir. Perusahaan masih terus memantau kondisi pasokan komponen sebelum menentukan langkah berikutnya.

Analis Counterpoint memperkirakan biaya komponen yang tinggi juga bisa berdampak pada harga iPhone generasi berikutnya. Meski demikian, Apple hingga kini masih mempertahankan harga jual iPhone.

Tekanan biaya tidak hanya dirasakan Apple. Sejumlah perusahaan teknologi lain juga mulai melakukan penyesuaian harga di tengah mahalnya komponen dan ketatnya pasokan global.

Pasokan chip memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan masih terbatas hingga 2027. Jika kondisi tersebut berlanjut, industri perangkat elektronik diprediksi masih akan menghadapi tekanan biaya dalam beberapa tahun ke depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.