Tekno

Serangan Siber ke Pengguna Ponsel Asia Pasifik Makin Tertarget

Winna Wandayani | 1 September 2026, 23:42 WIB
Serangan Siber ke Pengguna Ponsel Asia Pasifik Makin Tertarget
Ilustrasi gambar. (Kaspersky)

AKURAT.CO Ancaman siber terhadap pengguna ponsel di Asia-Pasifik semakin tertarget. Kaspersky mencatat rata-rata deteksi ancaman per pengguna terdampak naik 49 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, dari 4,9 menjadi 7,3 deteksi.

Peningkatan tersebut terjadi di delapan pasar yang dianalisis, meski jumlah pengguna yang menghadapi ancaman justru menurun. Artinya, penyerang semakin sering membidik pengguna tertentu secara berulang.

Thailand mencatat peningkatan paling tajam di Asia Tenggara. Jumlah deteksi lebih dari dua kali lipat menjadi 2.494 kasus, sedangkan rasio deteksi per pengguna naik dari 3,0 menjadi 11,9.

Sri Lanka juga mengalami lonjakan dengan 922 deteksi, naik 132 persen secara tahunan. Filipina mencatat 2.011 deteksi atau naik 28 persen, sementara Bangladesh meningkat 108 persen menjadi 1.859 deteksi.

"Di seluruh wilayah Asia Pasifik, ancaman seluler menjadi semakin canggih; penjahat siber memadukan teknik serangan yang sulit terdeteksi," ujar Choon Hong Chee selaku Head of Consumer Channel Asia Pasifik di Kaspersky, dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (1/9/2026).

China mencatat 6.797 deteksi, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara itu, India dan Indonesia masih menjadi pasar dengan volume deteksi terbesar, masing-masing mencapai 18.187 dan 15.163 kasus.

Kaspersky juga menemukan peningkatan penipuan melalui promosi palsu, phishing, iklan berbahaya, survei palsu dan rekayasa sosial. Tautan berbahaya disebarkan melalui SMS, aplikasi pesan instan, media sosial, tawaran pekerjaan palsu, hingga promosi digital.

Akun pesan instan yang telah diretas dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan tautan berbahaya kepada kontak korban. Pesan tersebut menjadi lebih sulit dicurigai karena terlihat seolah-olah berasal dari orang yang dikenal.

Serangan juga semakin kompleks karena pengguna dapat terpapar konten berbahaya hanya dengan membuka halaman web yang telah disusupi. Di India, misalnya, Kaspersky masih menemukan Trojan Rewardsteal dan kemunculan kembali Trojan Thamera.

Kecerdasan buatan (AI) turut membuat penipuan seluler semakin meyakinkan. Riset Kaspersky The Great Messaging Heist menemukan 66 persen korban meyakini AI digunakan dalam penipuan, mulai dari pesan AI hingga suara kloning dan deepfake.

Penipuan tersebut juga berlangsung cepat karena pelaku mendorong korban segera bertindak. Riset Kaspersky mencatat 52 persen kasus penipuan berhasil terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit sejak kontak awal.

"Seiring penipuan yang kian meyakinkan dan sulit dikenali, perlindungan diri memerlukan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif, bahkan sebelum pengguna menyadari bahwa mereka sedang diserang," kata Choon Hong.

Kaspersky menyarankan pengguna melakukan beberapa cara berikut:

- Periksa keaslian aplikasi sebelum mengunduhnya.

- Waspadai tawaran hadiah gratis atau cashback.

- Periksa izin akses yang diminta aplikasi.

- Aktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia.

- Periksa kembali tautan dari pesan, email dan media sosial.

- Perbarui sistem operasi dan aplikasi secara berkala.

- Gunakan solusi keamanan siber untuk perlindungan tambahan.

Peningkatan deteksi per pengguna menunjukkan ancaman seluler semakin terarah. Pengguna perlu waspada terhadap pesan, tautan dan aplikasi mencurigakan yang dibuat lebih meyakinkan dengan bantuan AI.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.