Data Pengadilan AS Bocor, Thomson Reuters Akui Ada Serangan Siber

AKURAT.CO Serangan siber kembali menunjukkan bahwa data penting bisa berada di sistem yang tidak banyak dikenal masyarakat. Kali ini, yang terdampak adalah C-Track, platform manajemen perkara milik unit Thomson Reuters yang digunakan sejumlah sistem pengadilan untuk mengelola catatan hukum secara digital.
Dilansir oleh Reuters pada Kamis (3/9/2026) Thomson Reuters mendeteksi insiden keamanan pada 30 Juni. Perusahaan kemudian menemukan bahwa pihak tidak berwenang telah memperoleh sejumlah file C-Track sejak Maret.
Beberapa catatan pengadilan yang terdampak berisi nama dan informasi pribadi. Insiden tersebut mencakup sistem pengadilan di 11 negara bagian AS, Kepulauan Virgin AS, dan Kanada.
Yang membuat kasus ini menarik adalah sistem yang menjadi sasaran bukan aplikasi konsumen populer seperti media sosial atau layanan belanja online. C-Track merupakan perangkat lunak yang bekerja di balik layar untuk membantu pengelolaan dokumen dan catatan pengadilan.
Data Pribadi Bisa Ikut Terseret
Thomson Reuters mengatakan aktivitas tidak sah tersebut ditemukan dalam salah satu lingkungan cloud miliknya. Setelah mengetahui adanya aktivitas mencurigakan, perusahaan mengambil langkah untuk mengamankan lingkungan C-Track dan melibatkan pakar keamanan siber eksternal. Penegak hukum juga telah diberi tahu.
Sistem yang terdampak mencakup pengadilan di Alabama, Pennsylvania, Kentucky, Montana, Nevada, North Dakota, South Carolina, Tennessee, Ohio, New Hampshire, Wyoming, serta Kepulauan Virgin AS. Di Kanada, tiga pengadilan Ontario juga menggunakan platform tersebut untuk pengelolaan catatan perkara secara digital.
Persoalan utamanya sekarang adalah belum jelas informasi apa saja yang benar-benar diakses atau diambil. Pernyataan dari tiga kepala pengadilan Ontario menyebutkan bahwa orang yang terlibat dalam perkara atau namanya tercantum dalam dokumen pengadilan bisa saja memiliki informasi pribadi yang ikut terdampak.
Namun sampai laporan Reuters diterbitkan, belum ada rincian lengkap mengenai data yang mungkin telah dikompromikan. Ini menjadi bagian penting dari kasus tersebut. Kebocoran data tidak selalu berarti seluruh database dicuri. Dalam banyak insiden, penyerang bisa saja hanya mendapatkan akses terhadap sebagian file.
Tetapi ketika file tersebut berasal dari sistem pengadilan, informasi yang terkandung di dalamnya berpotensi sangat sensitif.
Sistem Tetap Berjalan Meski Investigasi Berlangsung
Meskipun terjadi insiden keamanan, Thomson Reuters mengatakan C-Track tetap beroperasi secara normal. Juru bicara perusahaan menyatakan tidak ada gangguan operasional terhadap C-Track akibat insiden tersebut.
Perusahaan juga mengatakan produk dan layanannya tetap aman untuk digunakan setelah langkah perbaikan diterapkan dan divalidasi oleh pakar keamanan siber independen. Thomson Reuters juga telah memberi tahu pelanggan yang terdampak.
Di Kanada, perusahaan berencana membuka pusat layanan untuk menjawab pertanyaan terkait insiden tersebut mulai 4 September 2026.
Kasus ini memperlihatkan tantangan keamanan yang semakin umum ketika lembaga penting menggunakan layanan cloud dan perangkat lunak pihak ketiga. Sebuah pengadilan mungkin memiliki sistem internal sendiri, tetapi sebagian proses digitalnya tetap bergantung pada perusahaan teknologi eksternal.
Jika terjadi masalah di salah satu penyedia tersebut, dampaknya dapat menjalar ke banyak organisasi sekaligus. Menariknya, Reuters juga mencatat bahwa pihaknya tidak dapat menentukan siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini atau memastikan secara independen informasi apa saja yang telah dikompromikan.
Karena itu, kasus ini belum bisa disebut sebagai pencurian seluruh data pengadilan. Investigasi masih berlangsung.
Namun ada pelajaran sederhana dari insiden tersebut: semakin banyak aktivitas penting berpindah ke sistem digital, semakin penting pula keamanan perusahaan yang menyediakan infrastruktur di belakangnya.
Bagi pengguna biasa, nama C-Track mungkin terdengar asing. Tetapi jika sebuah platform yang bekerja diam-diam di belakang sistem pengadilan saja dapat menjadi sasaran, hal ini menunjukkan bahwa target serangan siber tidak selalu layanan yang paling terkenal, kadang justru sistem yang hampir tidak pernah kita dengar namanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







