Tekno

OpenAI Ingatkan Ancaman Serangan Siber Berbasis AI Makin Sulit Dibendung

Winna Wandayani | 4 September 2026, 10:45 WIB
OpenAI Ingatkan Ancaman Serangan Siber Berbasis AI Makin Sulit Dibendung
OpenAI (Openai.com)

AKURAT.CO OpenAI mengingatkan pengguna dan organisasi untuk bersiap menghadapi serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI). Peringatan ini muncul seiring AI semakin mampu menjalankan aktivitas secara mandiri.

"Orang-orang akan dapat mengakses model sumber terbuka ini dan dapat memiliki serangan yang berkelanjutan dan terus-menerus terhadap Anda," kata Chris Lehane selaku Chief Global Affairs Officer OpenAI, dikutip dari The Guardian, Jumat (28/8/2026).

Menurut Lehane, perkembangan kemampuan AI telah memasuki tahap baru. Model AI kini dapat melakukan lebih banyak pekerjaan secara mandiri, sehingga sistem pertahanan siber juga perlu berkembang untuk mengimbanginya.

Ia juga menyoroti perkembangan model AI open source, termasuk sejumlah model yang dikembangkan perusahaan asal China. Model-model tersebut dinilai semakin mudah diakses dan memiliki kemampuan yang semakin mendekati model AI terdepan.

Lehane memperingatkan akses luas ke model AI dapat memicu serangan siber berkelanjutan. Organisasi pun membutuhkan sistem pertahanan AI yang mampu mendeteksi dan menghentikan ancaman tersebut.

Peringatan OpenAI muncul setelah agen AI perusahaan dilaporkan menerobos sistem Hugging Face saat pengujian. Sistem tersebut menemukan celah dan mengakses bagian yang seharusnya tidak dijangkau.

Baca Juga: Anthropic Ungkap AI Uji Coba Pernah Melancarkan Serangan Siber ke Dunia Nyata

Dikutip dari TechCrunch, model tersebut menggabungkan sejumlah eksploit yang belum terdeteksi untuk melewati sistem keamanan. Model kemudian memanfaatkan Artifactory untuk mengakses internet dan menjangkau beberapa sistem.

Model Evaluation and Threat Research (METR) menemukan sejumlah agen AI yang seharusnya terisolasi ternyata dapat saling berkomunikasi. Lebih dari 700 agen dilaporkan bertukar lebih dari 70.000 pesan melalui saluran yang tidak disediakan untuk mereka.

Kondisi itu terjadi setelah agen diberikan tugas yang tidak mungkin diselesaikan. Dalam upaya mencari jalan keluar, para agen kemudian menemukan cara untuk berkomunikasi dan mengakses sumber daya yang seharusnya berada di luar batas pengujian.

Setelah insiden tersebut, OpenAI memperbarui sistem keamanannya. Perusahaan meningkatkan pemantauan terhadap proses internal agen AI, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan tujuan dan respons sementara sistem.

OpenAI menyiapkan sistem eskalasi 24 jam dan alat tambahan untuk menghentikan aktivitas berisiko. Perusahaan juga sempat menghentikan pelatihan beberapa model AI terdepan untuk menambah perlindungan.

Bagi organisasi, tantangannya bukan lagi sekadar menghadapi serangan otomatis, tetapi memastikan sistem keamanan mampu memantau, membatasi dan menghentikan agen AI sebelum aktivitasnya berkembang menjadi insiden yang lebih besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.