Tekno

Literasi AI Mulai Jadi Aset Penting untuk Hadapi Perubahan Teknologi

Winna Wandayani | 2 September 2026, 13:19 WIB
Literasi AI Mulai Jadi Aset Penting untuk Hadapi Perubahan Teknologi
Ilustrasi AI (Freepik)

AKURAT.CO Literasi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi kemampuan penting di tengah perkembangan teknologi. Pemahaman AI dinilai sama pentingnya dengan kemampuan membangun model dan infrastruktur pendukungnya.

"Literasi AI bukan hanya kesopanan pendidikan tetapi aset tata kelola," demikian disebutkan dalam materi tersebut, dikutip dari China Daily, Rabu (2/9/2026).

Literasi AI bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Kemampuan ini juga mencakup pemahaman terhadap batas AI, potensi risikonya, serta cara mengawasi penggunaannya.

Perkembangan AI turut mengubah cara pendidikan dijalankan. Ketika AI mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik, siswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menghafal.

Siswa juga perlu memahami cara menyusun pertanyaan yang tepat dan memeriksa informasi yang diberikan AI. Kemampuan menilai apakah sebuah jawaban dapat dipercaya menjadi semakin penting dalam proses belajar.

Perubahan tersebut membuat peran guru tetap dibutuhkan dalam pendidikan berbasis AI. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu siswa membangun kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan.

Baca Juga: Instagram Mulai Batasi Akun Influencer AI yang Tidak Pakai Label

World Economic Forum memperkirakan 39 persen keterampilan yang digunakan saat ini akan mengalami perubahan hingga 2030. Kemampuan AI dan big data juga diprediksi menjadi salah satu kompetensi yang paling banyak dibutuhkan perusahaan.

Sejumlah lembaga internasional mulai menyusun kerangka kompetensi AI untuk menghadapi perubahan teknologi. UNESCO menyiapkannya untuk guru dan siswa, sementara OECD membaginya dalam kemampuan menggunakan, menciptakan, mengelola dan merancang AI.

Hong Kong menjadi salah satu wilayah yang mulai menerapkan literasi AI secara lebih luas dalam sistem pendidikan. Mulai tahun akademik 2025-2026, University of Hong Kong mewajibkan mahasiswa mengikuti mata kuliah literasi AI.

Universitas lain di Hong Kong juga mulai menerapkan program dan pedoman terkait penggunaan AI dalam pendidikan. Pemerintah setempat turut mewajibkan sedikitnya 30 jam pelatihan pendidikan digital bagi guru setiap tiga tahun.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman AI mulai dipandang sebagai bagian dari kesiapan tenaga pendidik. Literasi AI tidak lagi sekadar ditempatkan sebagai materi tambahan di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.

Namun, penerapan literasi AI masih menghadapi sejumlah tantangan di tingkat pendidikan tinggi. Kebijakan antarperguruan tinggi belum sepenuhnya seragam, sementara pelatihan AI bagi dosen juga masih perlu diperkuat.

Efektivitas program literasi AI belum banyak diukur dari kemampuan lulusan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Persaingan AI juga bukan hanya soal model dan komputasi, tetapi kesiapan masyarakat memahami manfaat serta risikonya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.