Wearable untuk Kesehatan, Seberapa Bisa Dipercaya Datanya?

AKURAT.CO Smartwatch dan smart ring kini tidak hanya digunakan untuk melihat notifikasi atau menghitung langkah. Perangkat ini juga menawarkan fitur kesehatan, mulai dari detak jantung, SpO2, tidur, stres, hingga aktivitas harian.
Semakin banyak sensor membuat wearable mampu mengumpulkan lebih banyak data tubuh. Namun, pengguna perlu memahami bahwa setiap data memiliki tingkat akurasi yang berbeda.
Sebagian informasi kesehatan pada wearable merupakan hasil pembacaan sensor dan pemrosesan algoritma. Karena itu, angka yang muncul di layar tidak selalu menggambarkan kondisi tubuh secara medis.
Detak jantung menjadi salah satu fitur kesehatan yang paling umum ditemukan pada wearable. Sensor optik digunakan untuk membaca perubahan aliran darah dan memperkirakan denyut jantung.
Fitur SpO2 juga semakin banyak tersedia pada smartwatch dan smart ring. Hasil pengukurannya dapat dipengaruhi gerakan, posisi perangkat, hingga cara pengguna mengenakannya.
Pemantauan tidur menjadi fitur lain yang banyak digunakan pengguna wearable. Perangkat biasanya memakai data gerakan, detak jantung, suhu tubuh dan sensor lain untuk memperkirakan pola tidur.
Wearable tidak mengukur aktivitas otak secara langsung saat menentukan tahapan tidur. Karena itu, data seperti durasi dan fase tidur lebih tepat digunakan untuk melihat pola dari waktu ke waktu, sebagaimana dikutip dari The Verge, Senin (31/8/2026).
Meski memiliki keterbatasan, data wearable tetap dapat memberikan manfaat. Pemantauan rutin membantu pengguna melihat perubahan kondisi tubuh yang mungkin tidak disadari.
Baca Juga: Rekomendasi Smartwatch untuk Olahraga, Mana yang Cocok untuk Lari hingga Gym?
Contohnya adalah perubahan detak jantung saat istirahat atau pola tidur dalam beberapa hari. Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi kebiasaan sehari-hari.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut teknologi berbasis sensor dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Namun, tidak semua fitur kesehatan pada wearable memiliki fungsi sebagai perangkat medis.
Perbedaan tersebut penting ketika wearable mulai menawarkan fitur yang berkaitan dengan kondisi medis. Pengguna sebaiknya tidak menyamakan hasil dari smartwatch dengan pemeriksaan menggunakan alat medis.
FDA juga memperingatkan konsumen agar tidak menggunakan smartwatch atau smart ring untuk mengukur kadar gula darah tanpa metode yang menembus kulit. Hingga peringatan tersebut diterbitkan, perangkat jenis ini belum diotorisasi FDA untuk mengukur kadar gula darah.
Hal serupa berlaku untuk fitur pengukuran tekanan darah yang belum mendapatkan otorisasi. FDA memperingatkan hasil yang tidak akurat dapat membuat pengguna mengambil keputusan kesehatan yang keliru.
Pada akhirnya, tingkat kepercayaan terhadap data wearable bergantung pada jenis pengukuran dan tujuan penggunaannya. Perangkat ini lebih tepat digunakan untuk memantau tren kesehatan daripada menentukan diagnosis.
Jika hasil pengukuran terus menunjukkan perubahan atau muncul bersama gejala tertentu, pemeriksaan medis tetap diperlukan. Wearable sebaiknya digunakan sebagai alat pemantau tambahan, bukan pengganti dokter atau perangkat medis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









